Arsip Tag: sepeda

Jalur sepeda dan pengendara tak tahu malu

Beberapa minggu belakangan saya kalo pulang kantor lewat jalur sepeda. Wah asik juga ya, sudah ada jalur sepeda di sepanjang Jalan Dago mulai dari pertigaan Jalan Ganesha sampai hampir Simpang Dago, meskipun belum 100% siap pakai. Tapi kok di sepanjang jalur sepeda ada pohon, tiang listrik, penjual makanan, dan mobil parkir ya? Tadinya saya mau bahas tentang ini, tapi ada hal penting yang membuat hal-hal tersebut tidak begitu penting. Maklum lah kalau ada tiang listrik, karena jalur sepeda itu merupakan perluasan trotoar.

Senin (16/8) saya pulang lewat jalur sepeda lagi. Alangkah terkejutnya saya, lagi asik-asik mengayuh sepeda, ada motor yang memotong dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan dan tanpa ada niat untuk mengerem. (Dan di belakangnya ada tiga motor yang ikutan lewat jalur sepeda). Well, motor lewat trotoar/jalur sepeda sih memang sering, tapi yang ini tidak mempedulikan pengguna seharusnya. Untung refleks saya cukup baik untuk langsung mengerem tanpa terjadi kecelakaan. Tapi tentunya saya tidak terima dan langsung teriak, “OI!!”

Baca lebih lanjut

Origin part 2

Lanjutan dari bagian 1.

Secara tidak kebetulan, ayah dari teman saya ini adalah seorang dokter, maka saya pun dibawa ke rumahnya (sekitar 150 meter jauhnya, mungkin) untuk pertolongan pertama. Setelah pertolongan pertama, barulah saya dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan jahitan di alis kanan saya. Rupanya saat tabrakan, alis kanan saya terkena pecahan kaca lampu vespa. Luka-luka lain di tubuh saya tidak parah.

Beberapa fakta yang belakangan saya ketahui (setelah pulang dari rumah sakit) adalah:
Baca lebih lanjut

Origin part 1

Ada yang bertanya, mengapa saya begitu membenci pengendara sepeda motor? Ada juga yang bertanya, dari mana asalnya bekas luka di alis kanan saya? Here goes the story…

Sekitar enam belas tahun yang lalu, saya tidak ingat persisnya. Yang saya ingat, saat itu saya bahkan belum masuk SD. Kalau tidak salah saat libur setelah lulus TK sebelum masuk SD. Di pagi hari yang cerah, atau mungkin siang? Saya juga tidak ingat. Anyway, saat itu saya sedang bersepeda dengan seorang teman. Lokasinya masih di dalam kompleks Griya Depok Asri, hanya sekitar tiga puluh meter dari rumah saya sendiri. Singkat kata, sampailah pada suatu saat di mana saya diboncengi teman saya dengan sepedanya. Ketika sedang melaju sekencangnya anak TK, dari arah berlawanan tampak sebuah sepeda motor, atau lebih tepatnya skuter vespa piaggio, melaju dengan ngebutnya. Saya sempat melihat pengendara vespa berkali-kali mencoba menekan rem, namun rem pada vespanya tampak tak berfungsi.

Baca lebih lanjut

Datangnya dari mimpi

Semester tujuh, untuk sebagian program studi di ITB, sudah saatnya mengambil mata kuliah yang biasanya mulai sensitif untuk disebut. Sebut saja mata kuliah tersebut Tugas Akhir I atau TA I (bukan nama samaran). Belum lagi dengan prosedur TA yang baru di Teknik Informatika, di awal semester sempat membuat panik para TA I-ers. Di sini lah bagian pertama dari rangkaian Tugas Akhir dimulai: mencari topik dan dosen pembimbing.

Percaya atau tidak, lagi-lagi saya mendapat ilham melalui mimpi. Kali ini mengenai topik TA. Baca lebih lanjut

Kecelakaan di depan mata

Kemarin sore, pulang dari kampus sekitar pukul 20.00 kurang sedikit, saya melihat dua kecelakaan sepeda motor berturut-turut tepat di depan mata saya.

Kondisi saat itu sedang hujan, dan jalan menjadi licin karena basah. Karena itu saya memutuskan untuk parkir dulu di Circle K Dayang Sumbi untuk menunggu hujan reda, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, rupanya Badai yang saya tunggangi ini bannya kurang cocok untuk kondisi jalan licin.

Baca lebih lanjut

Kuda dan Badai

Badai. Nama itulah yang akhirnya saya berikan kepada sepeda baru saya. Namun sebelum membahas si Badai ini mari sebelumnya bernostalgia ke sepeda lama saya.

Mungkin sudah tertebak dari judul post ini, nama sepeda lama saya adalah Kuda. Mungkin tidak banyak saya ceritakan bahwa namanya adalah Kuda, tapi beberapa teman sudah pernah saya ceritakan. Alasan penamaan tersebut sederhana saja: karena dia lah kuda besi-ku yang selalu setia menemaniku, di saat badai maupun terik cuaca, meskipun aku sering meninggalkannya, hingga akhirnya maling memisahkan kami berdua. Cuih cuih sok sweet banget kata-katanya :D

Lantas mengapa si Badai dinamai demikian? Baca lebih lanjut

Sepeda baru :D

Setelah satu semester berlalu tanpa sepeda, akhirnya…

SEPEDA BARUUUU!! :D

Hore! Hore! Hore!

Seperti dulu, sepeda yang baru saya beli tadi siang ini juga berasal dari toko sepedanya Chandra di jalan Veteran no. 84. Thanks untuk Chandra dan tokonya :D. Setelah beli sepeda, langsung saja saya pakai untuk pulang (rencananya), namun thanks to jalan yang jauh nan menanjak serta satu semester tanpa sepeda dan tak lupa masa kerja praktek yang sukses memberi lemak pada tubuh saya, saya pun keburu cape, jadi mampir dulu deh ke kampus. Hehehe…

Baca lebih lanjut