Arsip Tag: firefox

Lunascape: 3 in 1

Barusan mendapat info tentang adanya web browser bernama Lunascape yang saat ini sudah mencapai versi 5.1.2 (tapi kok gak pernah terdengar ya, sebelum ini?). Browser gratisan ini membuat klaim yang sangat muluk. Pertama, disebut 3 in 1 karena menggunakan tiga engine: Trident (IE), Gecko (Firefox), dan Webkit (Safari, Google Chrome). Kedua, klaim Javascript rendering tercepat di antara browser-browser populer. Ketiga, fitur yang sangat banyak hanya dalam installer berukuran 8.42Mb.

Hanya ada satu cara membuktikannya, yaitu download dan instal! Selama download saya menyempatkan diri melihat video di situsnya, dan menurut opini pribadi, desainer video tersebut cukup kampungan/alay/P2S/gromang. Selain itu tampilan situsnya juga tidak memenuhi kriteria-kriteria IMK. Tapi apalah arti sebuah iklan jika produknya memang sudah bagus. Jadi memang harus kita coba produknya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Google Chrome

Google Chrome

Google corp., salah satu perusahaan raksasa yang bergerak di bidang perangkat lunak (khususnya perangkat lunak web), telah meluncurkan versi beta dari peramban terbarunya yang diberi nama Google Chrome. Peramban baru ini membawa inovasi-inovasi baru buah pikiran para analis di Google corp., baik dari sisi antarmuka perangkat lunak maupun dari sisi cara kerja perangkat lunak. Dengan inovasi-inovasi ini, Google Chrome diperkirakan dapat menandingi peramban-peramban yang telah ada sebelumnya seperti Microsoft Internet Explorer (kini Windows Internet Explorer), Mozilla Firefox, Opera, ataupun Apple Safari sehingga Google corp. dapat mengalahkan Microsoft sebagai perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia.

Google Chrome sendiri sebenarnya menggunakan mesin penterjemah HTML (Hyper Text Mark-up Language) WebKit buatan Apple yang juga digunakan pada peramban Apple Safari. Namun, Google menggunakan beberapa pendekatan yang berbeda dari Apple Safari maupun peramban lainnya. Yang pertama adalah dari sisi antarmuka. Google Chrome lebih mengutamakan area yang luas untuk menampilkan halaman web, sehingga elemen-elemen lain dalam peramban dikurangi. Misalnya menu bar yang umumnya ada pada perangkat lunak, digantikan oleh dua buah tombol pada toolbar. Address bar pun diletakkan pada baris yang sama dengan toolbar sebagai address field untuk menghemat tempat, meskipun dengan mengorbankan jumlah tombol yang dapat ditampilkan. Bar yang menampilkan bookmark pun secara default tidak ditampilkan. Hal yang benar-benar baru dibandingkan dengan peramban lain ialah penggabungan address field dengan search field. Dalam Google Chrome tidak terdapat search field. Pencarian dengan kata kunci menggunakan mesin pencari seperti Google atau Yahoo dapat dilakukan dengan mengetikkan kata kunci pada address field dan memilih mesin pencarian yang akan digunakan. Jadi, secara umum desain antarmuka Google Chrome membawa perubahan paradigma dalam desain aplikasi peramban.

Dari segi cara kerja perangkat lunak, Google Chrome mengadaptasi fitur dari Mozilla (kini Netscape Browser) yang dapat membuka banyak tab pada satu jendela peramban sehingga tidak perlu membuka banyak jendela peramban untuk mengakses lebih dari satu halaman web sekaligus. Namun, secara internal cara kerja tab pada Chrome berbeda dengan Mozilla ataupun peramban lain yang kini juga telah mengadaptasi fitur multitab tersebut. Umumnya, sebuah jendela peramban berada pada satu process yang berjalan di atas sistem operasi, sedangkan tab-tab yang ada di dalamnya berjalan pada thread yang berbeda di dalam process tersebut. Pada Google Chrome, sebuah jendela peramban merupakan sebuah container untuk tab-tab yang ada. Container ini berjalan pada satu process, dan setiap tab yang ada pun berjalan pada process-nya masing-masing, bukan berupa thread yang berjalan di dalam process. Ada dua keuntungan dari penggunaan teknik ini: yang pertama, apabila salah satu tab mengalami crash, tab yang lain tidak akan terpengaruh, sebab tab tersebut berjalan pada process yang berbeda. Yang kedua, karena setiap halaman web dibuka pada process yang berbeda, maka untuk membuka satu halaman web dapat digunakan beberapa thread sehingga waktu yang dibutuhkan lebih sedikit. Namun, cara ini mempunyai kekurangan, yaitu pemborosan memory, sebab setiap process membutuhkan process table sendiri, sedangkan thread hanya “menumpang” pada process yang memiliki thread tersebut.

Google Chrome versi 0.2 ini masih berada pada tahap beta, sehingga wajar apabila di dalamnya masih terdapat banyak bug. Bug yang paling terasa menyulitkan pemakaian antara lain bug pada caching halaman web dan bug pada penerjemahan javascript dan CSS (Cascading Style Sheet) pada halaman web.