Arsip Tag: depok

Seputar Pilpres di tempat saya

7 Juli 2009

Hari ini saya sengaja datang ke kantor satu jam lebih pagi, yaitu pukul 08.00, supaya bisa pergi lebih awal karena dari kantor saya langsung mengejar travel menuju Depok, tempat saya akan memilih dalam Pilpres ini. Pukul 16.30 saya pun meninggalkan kantor meskipun travel baru berangkat pukul 17.30, karena saya merasa jalan akan macet. Benar saja, jalan macet namun tidak semacet dugaan saya, sehingga saya pun cukup awal tiba di pool travel. Perjalanan saya ditemani oleh indahnya bulan purnama.

Begitu tiba di Depok, saya mendapat kabar bahwa seisi rumah saya tidak mendapat undangan untuk memilih. Nah lo, padahal waktu Pileg kami terdaftar dan lancar-lancar saja. Baca lebih lanjut

Sejarah Kota… Err, Negara, Depok

Oke, buat mereka yang penasaran dan tidak percaya, saya berikan sejarah kota negara Depok, di-copy-paste dari sini dengan sedikit koreksi kesalahan pengetikan (tanpa mengubah konten). Tulisan ini dibuat oleh Han Soedira, keturunan warga negara Depok. Situsnya sudah tidak aktif dan saya tidak tahu bagaimana menghubungi beliau, jadi jujur saja saya belum meminta izin beliau untuk mengutip tulisan beliau di blog saya ini. Baca lebih lanjut

Walikotaku kurang kerjaan

Tanggal 25 kemaren, bertepatan dengan hari Natal, gw pulang ke Depok. Perjalanan berlangsung dengan lancar, tanpa orang gila di jalan tol.

Singkat kata tibalah gw di kota Depok. Memasuki jalan Margonda, kemacetan yang entah dari mana datangnya seperti biasa datang menghampiri. Waktu berlalu… Gw pun melewati pertigaan Ramanda. Oke, dulu Ramanda, sekarang udah jadi bengkel. Pokoknya di pertigaan itu ada billboard gede, memanjang vertikal. Di atasnya ada jam digital yang hampir selalu ngaco. Apa yang saat ini sedang terpampang di billboard itu? Baca lebih lanjut

Keteguhan hati sang orang gila

Berjumpa kembali dalam blog yang kadang-kadang gak penting ini. Tulisan saya kali ini mungkin akan dianggap gak penting oleh beberapa orang, tapi judulnya menarik, bukan?

Kejadian ini terjadi bulan Juli yang lalu, ketika akhirnya saya harus meninggalkan kasur saya yang nyaman di kota Depok menuju kasur saya yang nyaman di kota Bandung. Saya berangkat dari Depok menuju Bandung dengan “menumpang” (dengan membayar, tentunya) pada sebuah agen travel Depok-Bandung melalui jalan tol yang dengan senang hati rela dilindas jutaan ban mobil demi mempercepat waktu tempuh Jakarta-Bandung. Seperti biasa, saya tidak tidur di perjalanan karena sibuk mengamati perubahan apa saja yang terjadi di sekitar jalan tol sejak terakhir kali saya lewati.

Nah, ketika kira-kira sudah 3/4 perjalanan, sang supir dan para penumpang yang tidak tertidur dikejutkan oleh seorang yang (mungkin) kurang waras. Sang orang gila (kenapa saya menggunakan “sang” untuk seorang gila?) berusia sekitar 50 tahunan itu berdiri tegak di tengah jalan tol, menghadap arah datangnya mobil, dengan bertelanjang dada dan tangan kanannya menggenggam kemeja yang tadinya ia kenakan. Tentu saja para pengemudi kendaraan yang melintas selalu mengerem mendadak dan berpindah lajur menghindari sang orang gila tersebut, termasuk sang supir travel yang saya “tumpangi”.

Saya pun merasa kaget ketika mengalami kejadian itu, namun ada satu hal yang menarik perhatian saya dan mengundang kekaguman saya pada peristiwa tersebut. Saya ingat betul tatapan mata sang orang gila. Bagaikan elang (beuh, kata-katanya…), matanya menatap tajam, lurus kepada setiap mobil yang melaju ke arahnya. Melalui bola matanya saya dapat melihat suatu keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat dalam dirinya. Muncul-lah jiwa analitis dalam diri saya, membuat list mengenai apa yang begitu diyakini oleh sang orang gila:

  1. Ia yakin bahwa ia ingin mati
  2. Ia yakin bahwa ditabrak mobil pun ia tidak akan mati
  3. Ia yakin bahwa ia tidak akan ditabrak mobil

Namun saya tidak yakin dengan yang ketiga, jadi poin 1 dan 2 menurut saya lebih mungkin.

Anyway, yang menjadi penekanan saya di sini ialah betapa sang orang gila tersebut memiliki keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat, yang dalam judul tulisan ini saya ungkapkan sebagai keteguhan hati. Nah, bagaimana dengan Anda yang merasa diri Anda waras, yang tentunya tidak mau disamakan dengan sang orang gila? Apakah Anda mempunyai keyakinan dan kepercayaan diri sekuat sang orang gila? Apakah Anda memiliki keteguhan hati yang mantap untuk membela apa yang Anda anggap benar? Ataukah Anda justru takut dan menyerah jika menghadapi tekanan?

VISIT INDONESIA YEAR 2008!!!