Arsip Tag: apple

Are you (touchscreen) experienced

Saya pernah bilang: gak ada yg mengalahkan touchscreen experience di Windows Phone. Setidaknya menurut pengalaman saya, touchscreen Windows Phone adalah yang paling nyaman digunakan di antara mobile device yang pernah saya gunakan.

Sebagai pembuka tentunya perlu diklarifikasi dulu lingkungan mobile apa saja yang pernah saya gunakan: Windows Phone, iOS, sedangkan untuk Android palingan saya pernah pake hasil pinjam karena saya gak punya. Kalo Bl… Blek… Black… yah yang satu itu lah pokoknya, saya belum pernah pakai dan gak berniat untuk pakai juga. Oh iya, untuk Windows Phone saya cuma pernah pakai merk Nokia, belum pernah berjumpa langsung dengan device Windows Phone merk lain. Jadi mungkin saja superiority yang saya rasakan adalah sebagian karena Nokia, bukan karena Windows Phone saja. Saya juga bukan pengguna tablet, jadi bahasan ini terbatas pada device berukuran layar di bawah 6 inci.

Jadi aspek apa saja yang membuat saya berkesimpulan touchscreen di Windows Phone paling hebat? Baca lebih lanjut

Iklan

Tentang Mac vs PC vs Linux vs apapun lah

Perdebatan tentang sistem operasi, “mana yang paling baik?” sudah ada sejak dulu. Baik perusahaan maupun para fanatik menggembor-gemborkan kelebihan sistem operasinya dan menghina sistem operasi lain. Jadi memang sebenarnya yang mana yang paling baik? Percaya atau tidak, saya PUNYA jawabannya. Mau tahu?

Baca lebih lanjut

ReactOS : Windows XP gratis?

screenshot ReactOS 0.3.3 shell

Sistem operasi apa yang Anda gunakan? Windows XP atau Vista keluaran Microsoft? Ubuntu, Fedora Core, atau salah satu dari ratusan distro Linux lainnya? MacOS X dari Apple? Kombinasi dari dua sistem operasi? Atau malah tiga atau lebih? Tak bisa dipungkiri, “jabatan” sistem operasi paling populer hingga saat ini masih dipegang oleh Windows XP. Kompatibilitas dengan berbagai macam perangkat keras (dibandingkan MacOS X yang resminya hanya dapat dijalankan pada perangkat keras buatan Apple), stabilitas yang lebih baik (dibandingkan versi sebelum Windows 2000 ataupun Windows Vista), serta kayanya variasi perangkat lunak untuk berbagai macam kebutuhan dan kemudahan membuat perangkat lunak baru (dibandingkan dengan Linux) menjadi andalan sistem operasi buatan Microsoft ini.

Namun, mahalnya lisensi untuk sistem operasi ini cukup menyulitkan, khususnya bagi warga negara berkembang seperti Indonesia ini. Akibatnya, pembajakan perangkat lunak terjadi di mana-mana. Praktisi teknologi informasi yang mulai menghargai HaKI akan lebih menyukai sistem operasi Linux yang lisensinya jauh lebih murah, bahkan tidak sedikit yang gratis. Namun, kebanyakan klien masih menggunakan keluarga sistem operasi Windows, sehingga tidak jarang para praktisi teknologi informasi ini terpaksa menggunakan keluarga sistem operasi Windows, yang juga tidak jarang merupakan produk bajakan. Lantas bagaimana? Tidak bisakah kita memiliki sistem operasi yang kompatibel dengan keluarga Windows, khususnya Windows XP, dengan stabilitas yang kurang lebih sama, legal, dan yang paling penting dalam kasus ini : murah? Mungkin tidak lama lagi kita akan mendapatkan jawabannya.

Tidak banyak yang tahu mengenai sistem operasi yang satu ini, bahkan dari kalangan praktisi teknologi informasi. Tujuan dibuatnya sistem operasi ini dapat menjawab semua persoalan di atas, bahkan lebih baik. React Operating System atau ReactOS tidak hanya akan kompatibel dengan Windows XP, tapi juga gratis dan bahkan bersifat open source! Proyek ReactOS ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1996. Diawali sebuah kelompok yang menamakan diri FreeWin95, mereka ingin membuat sistem operasi yang meniru Windows 95. Namun, pada akhirnya proyek ini hanya sebatas diskusi mengenai desain sistem, tanpa hasil. Akhirnya, pada akhir 1997 Jason Filby menjadi koordinator proyek ini dan memanggil kembali anggota-anggota FreeWin95. Proyek ini dibangkitkan kembali dengan tujuan membuat tiruan Windows NT yang teknologinya masih diimplementasikan pada Windows XP dan Vista. Filby juga menekankan pada hasil berupa source code daripada sekedar diskusi. Proyek ini kemudian diberi nama ReactOS, yang diambil dari to react, menandakan reaksi mereka terhadap monopoli pasar sistem operasi oleh Microsoft. Awalnya, proyek ini berjalan lambat, namun seiring berjalannya waktu, makin banyak orang yang mau berkontribusi sehingga perkembangan proyek semakin cepat. Sudah cukup banyak perangkat lunak untuk Windows yang dapat dijalankan tanpa masalah pada ReactOS. Sebagai contoh, untuk pemrograman, antara lain Delphi 7, Dev-C++, Dev-Pascal, Free Pascal Compiler, dan Microsoft Visual Studio 6.0 Professional telah berjalan dengan baik. Untuk office suite, OpenOffice.org, office suite open source terbesar, versi 2.02-nya telah sukses diuji pada ReactOS. Bahkan Microsoft Office 2000 juga telah berjalan dengan baik pada sistem operasi yang masih berada pada tahap alpha ini. Selain itu, masih banyak perangkat lunak lain yang kompatibel dengan ReactOS hingga tidak dapat disebutkan satu per satu.

Hingga tulisan ini dibuat, ReactOS sudah mencapai versi 0.3.6, yang masih merupakan tahap alpha. Artinya, sistem operasi ini belum dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Namun dengan sifatnya yang open source, diharapkan pengembangan ReactOS akan lebih cepat dan tidak memiliki bug sebanyak Windows XP. Rencananya, versi berikutnya, yaitu 0.3.7 akan dirilis bulan September 2008 mendatang. Versi 0.4 masih akan tetap berstatus alpha, sedangkan versi 0.5 akan mulai menapaki status beta yang sudah dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Tim ReactOS merencanakan versi 0.5 akan dirilis sebelum tahun 2008 berakhir. Setelah versi 0.5, perjalanan akan terus dilanjutkan hingga versi 1.0 yang oleh para pengembang ReactOS disebut sebagai versi Gold atau Production, yang merupakan rilis final dari ReactOS. Semoga saja versi ini dirilis sebelum sistem operasi Windows XP “karatan”.

Lagi-lagi, saya tutup dengan tag line yang tidak berhubungan dengan isi post,

VISIT INDONESIA YEAR 2008!!!