Tombol dan otak

Perhatikan gambar berikut:

Shift key

Gambar di atas adalah sebuah foto dari tombol Shift di keyboard komputer. Sekarang perhatikan gambar berikut:

Close buttonKalau gambar sebelumnya merupakan foto dari sebuah objek nyata (fisik) yaitu keyboard, gambar di atas merupakan “tombol bohongan” di layar komputer. Meskipun bukan benda nyata, tapi kita tetap bisa menangkap bahwa gambar itu adalah gambar tombol. Ada gradien dan bayangan unyu-unyu yang seolah-olah berkata kepada kita, “Saya tombol, saya bisa diklik lho!” Tapi grafik di komputer zaman dahulu tidak sekaya itu, tidak mudah membuat gradien dan bayangan ketika layar komputer cuma bisa menampilkan 8 warna. Tapi coba perhatikan gambar berikut:

OK buttonGambar itu masih berteriak, “Saya bisa diklik lho,” meskipun kalau kita perhatikan baik-baik, zoom sampai sepuluh kali lipat, kita dapat melihat bahwa gambar di atas hanya terdiri atas tiga warna: hitam, putih, dan satu shade abu-abu. Kalau boleh dibilang (jelas boleh, kan gambar itu buatan saya sendiri), gambar itu sebenarnya cuma dua garis hitam, dua garis putih, dan (garis-garis hitam yang membentuk) tulisan “OK”. Dan bahkan garis-garis tersebut tebalnya hanya satu pixel! Tapi mengapa kita bisa mengerti kalau gambar itu merepresentasikan sebuah tombol?

Itulah hebatnya otak manusia. Kita bisa melakukan penyederhanaan dari benda nyata menjadi suatu model yang tetap kita mengerti maksudnya. Contoh lainnya adalah gambar stick figure yang meskipun cuma lima garis dan satu lingkaran tetap bisa kita anggap sebagai manusia. Otak manusia bisa mengisi detail yang hilang dari gambar tersebut dari ingatan dan imajinasi.

Nah, coba pikirkan, kalau empat garis saja bisa kita anggap tombol, rasanya tidak mengherankan kalau siluet ranting pohon bisa kita kira hantu, bayangan gelap di sebuah foto langit kita kira UFO, bercak air di tembok terlihat seperti wajah tokoh agama tertentu, dan pola bulu kucing terlihat seperti tulisan tertentu dalam huruf Arab.

A good day for web

Hari ini bisa jadi adalah salah satu hari bersejarah untuk web, karena pada hari ini tidak cuma ada satu, tapi dua browser engine “baru” yang diumumkan. Kalau biasanya kita tahu WebKit (dipakai oleh Chrome, Safari, etc), Gecko (dipakai oleh Mozilla Firefox, etc), Trident (dipakai oleh IE), dan Presto (dipakai oleh Opera, tapi akan segera dipensiunkan), hari ini ada pengumuman dari Mozilla+Samsung dan Google.

Mozilla, bekerjasama dengan Samsung, akan merilis browser engine bernama Servo.

Google membuat fork dari WebKit yang dinamai Blink.

Untuk Servo, intinya ada pada pemanfaatan kemampuan perangkat keras masa kini: “Servo is an attempt to rebuild the Web browser from the ground up on modern hardware, rethinking old assumptions along the way. This means addressing the causes of security vulnerabilities while designing a platform that can fully utilize the performance of tomorrow’s massively parallel hardware to enable new and richer experiences on the Web.” [The Mozilla Blog]

Sedangkan untuk Blink, fokusnya ada di multi-processing: “[…] Chromium uses a different multi-process architecture than other WebKit-based browsers, and supporting multiple architectures over the years has led to increasing complexity for both the WebKit and Chromium projects. This has slowed down the collective pace of innovation – so today, we are introducing Blink, a new open source rendering engine based on WebKit.” [The Chromium Blog]

Selain itu beberapa waktu yang lalu ada kabar dari Opera bahwa mereka akan meninggalkan Presto dan beralih ke WebKit. Hari ini diumumkan bahwa Opera akan menggunakan Blink: “It’s great to be able to talk publicly about Blink, the new engine that will power Opera’s browsers (…) and Chrome henceforth. I know a lot of people worried that there would be less diversity on the Web once Opera Presto was retired, and the forking of WebKit into Blink restores that balance. Opera will be contributing to Blink in future.” [Bruce Lawson]

Mengapa dibilang a good day for web? Karena dengan dua engine baru ini berarti kompetitor di bidang browser engine semakin banyak, dan besarnya kompetisi akan memberi stimulasi untuk inovasi dan perkembangan teknologi yang lebih cepat. Meskipun mungkin bukan good day bagi para programmer web karena berarti nambah lagi browser yang harus di-support. Untung saya bukan programmer web. Hehehe…

From googol to Googleplex to babel fish to forty-two

Pretty weird title, huh? Except of course if you have listened to/read/watched The Hitch Hiker’s Guide to the Galaxy (H2G2 for short) by Douglas Adams.

Google, the former search engine giant (now just “the giant”), claims that the name is a misspelling of googol, which is 10^100; and their campus Googleplex from googolplex, which is ten to the power of a googol, or 10^10^100. Both original terms, googol and googolplex were first coined in 1938 by a 9-year-old kid. (If you’re not sure about this fact or any other facts presented in this blog post, you can Just Google It.) Google was founded in 1998, but the usage of the word googleplex with that spelling (instead of googolplex) appeared in 1979 — way before Google was founded — as the name of a supercomputer, Googleplex Star Thinker, a minor character in H2G2. Considering Google was founded by Standard Nerds who quite likely has ever read the H2G2 trilogy (there are 6 books total), this is clearly a coincidence. Baca lebih lanjut

A useless machine?

During our trip back from Kediri to Bandung, my colleagues and I took the time to visit a beach near Ayah, Jawa Tengah. There, at first I was reluctant to play around and get my hands dirty, because I really had not prepared to go to a beach. But then I decided to go anyway. I made a structure from sands for one purpose: to contain water that later was used to wash away the grains of sand that sticked to my hands. Now this is where it gets interesting. This “machine” was made to wash my hands, but if I did not make this machine, my hands would not be dirty, therefore there would not be a need to wash my hands, i.e. there would be no need to build the machine. That’s why I call this thing “a machine which only purpose was to solve the problem created by the machine itself.” I was pretty sure some philosopher has ever thought about something like this, so it might already have a shorter, fancier name than what I mentioned, but I have not found anything about it during my “research” (read: search around with duckduckgo.com and google.com). Baca lebih lanjut