Arsip Kategori: Music

All I Want For Christmas Is You

Natal. Bandung. Depok. Solo. Ah, kayanya Natal ini ga bisa ketemu dia. Seperti biasa, karena otak saya penuh dengan library musik, saya pun langsung teringat sebuah lagu. Mariah Carey, All I Want For Christmas Is You.
Baca lebih lanjut

Iklan

Full Circle

Judul post ini adalah judul album terbaru Creed, yang dirilis pada tanggal 26 Oktober yang lalu, lebih cepat sehari dari yang direncanakan. Post ini membahas tentang album tersebut.

Creed adalah band rock yang berdiri pada tahun 1995. Singkat kata, suatu hari di tahun 2004, kelakuan vokalis Scott Stapp membuat Creed bubar. Namun April 2009, Creed mengumumkan reuni, meskipun sebelumnya gitaris Mark Tremonti pernah menyatakan bahwa Creed tidak akan bergabung kembali, bahkan ia tak ingin lagi mendengar atau memainkan lagu-lagu Creed. Namun sepertinya Stapp berhasil meyakinkan bahwa ia benar-benar “bertobat” sehingga Creed pun bergabung kembali. Hore!

Lanjut ke album Full Circle. Judul album ini menggambarkan bahwa kini Creed kembali dalam formasi lengkap, termasuk bassist Brian Marshall yang sempat hengkang dari Creed pada tahun 2000 dan drummer Scott Philips. Dalam album ini terdapat 12 lagu termasuk dua single, yaitu Overcome dan Rain, serta title track, Full Circle. Bonus track Silent Teacher disertakan pada versi iTunes pre-order.

Baca lebih lanjut

Musician Joke

<Snausages> So, an E-flat, a G-flat, and a B-flat walk into a bar.
<Snausages> And the bartender says,
<Snausages> “I’m sorry, we don’t serve minors.”
<Myke> That struck a chord.
<Snausages> Careful with those puns, you’ll get in treble.
<Myke> But they’re key to my humour.
<Myke> And very noteworthy.

(From http://www.bash.org/?791482)

The Dance Company – Coba Kau Bayangkan

Coba kau bayangkan
engkau di pelukan
Mentari terbenam,
malam jadi teman

Coba kau bayangkan
waktu terlupakan
Engkau di pelukan,
takkan ku lepaskan

Aku di sini,
engkau di situ
Tunggu aku
(Tunggu aku datang ke situ)
datang untukmu
(Tunggu aku datang untukmu)

Ku tahu aku
tak di sampingmu,
tapi nanti
(Aku pasti datang ke situ)
datang untukmu
(Tunggu aku datang untukmu)

Sempat aku bertanya
kapan bertemu
Tak perlu kau pusingkan
jarak dan waktu

[The Dance Company; Ariyo/Riyo-Baim/Bebe-Pongki/Wega-Nugie/Mbot]

Prihatin terhadap (beberapa) musisi Indonesia

Di Indonesia, lagu-lagu terkenal karya band besar tidak jarang diubah liriknya untuk iklan komersil sebuah produk. Tidak perlu saya sebut contohnya, pembaca pasti tahu. Bagi saya — yang mungkin bisa disebut idealis seni — ini hal yang sangat memprihatinkan.

Sebuah lagu memiliki nilai seni bukan hanya dari nadanya, tentu saja. Ada aransemen, ada lirik. Bahkan seorang pencipta lagu menentukan nada dasar, itu ada maknanya. Ada soul yang berbeda jika nada dasarnya berbeda. Sebuah lagu menjadi sempurna dengan keseluruhan aspek tersebut. Satu aspek berubah, makna pun berubah.

Ketika lirik lagu diubah, bagi saya analog dengan perumpamaan ini: bayangkan seorang pelukis aliran realis yang melukis suatu pemandangan di siang hari, Baca lebih lanjut

Tanah Airku

cipt. Ibu Soed

Tanah airku tidak kulupakan
‘Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak ‘kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah airku tidak kulupakan
‘Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak ‘kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai

Catatan:

Mungkin saya belum pernah ke luar negeri. Mungkin Anda bisa bilang saya kurang pengalaman… Bukan, malah tidak punya pengalaman. Tetapi saya yakin Ibu Soed punya jauh lebih banyak pengalaman dibandingkan saya dan Anda. Apa kata beliau? “Walaupun banyak negeri kujalani, … tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan!”