Arsip Kategori: Brain Vomits

Es krim goreng adalah inkarnasi surga

Dalam berbagai kepercayaan disebutkan bahwa hal-hal duniawi berkebalikan dengan hal-hal suci atau surgawi. Dalam berbagai bahasa, kata dunia ekuivalen dengan Bumi, atau lebih umum lagi, planet. Dalam fiksi ilmiah berbahasa Inggris, misalnya, sebuah planet asal suatu spesies cerdas sering disebut dengan istilah homeworld. Bumi adalah homeworld bagi Homo sapiens.

Menimbang definisi kata dunia dan turunannya, duniawi, serta membandingkannya dengan es krim goreng, saya pun dengan ngasalnya mengatakan bahwa es krim goreng adalah inkarnasi surga. (Kata yang terpikir oleh saya dalam bahasa Inggris adalah epitome atau embodiment, tapi saya tidak tahu kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.)

Baca lebih lanjut

Iklan

Tombol dan otak

Perhatikan gambar berikut:

Shift key

Gambar di atas adalah sebuah foto dari tombol Shift di keyboard komputer. Sekarang perhatikan gambar berikut:

Close buttonKalau gambar sebelumnya merupakan foto dari sebuah objek nyata (fisik) yaitu keyboard, gambar di atas merupakan “tombol bohongan” di layar komputer. Meskipun bukan benda nyata, tapi kita tetap bisa menangkap bahwa gambar itu adalah gambar tombol. Ada gradien dan bayangan unyu-unyu yang seolah-olah berkata kepada kita, “Saya tombol, saya bisa diklik lho!” Tapi grafik di komputer zaman dahulu tidak sekaya itu, tidak mudah membuat gradien dan bayangan ketika layar komputer cuma bisa menampilkan 8 warna. Tapi coba perhatikan gambar berikut:

OK buttonGambar itu masih berteriak, “Saya bisa diklik lho,” meskipun kalau kita perhatikan baik-baik, zoom sampai sepuluh kali lipat, kita dapat melihat bahwa gambar di atas hanya terdiri atas tiga warna: hitam, putih, dan satu shade abu-abu. Kalau boleh dibilang (jelas boleh, kan gambar itu buatan saya sendiri), gambar itu sebenarnya cuma dua garis hitam, dua garis putih, dan (garis-garis hitam yang membentuk) tulisan “OK”. Dan bahkan garis-garis tersebut tebalnya hanya satu pixel! Tapi mengapa kita bisa mengerti kalau gambar itu merepresentasikan sebuah tombol?

Itulah hebatnya otak manusia. Kita bisa melakukan penyederhanaan dari benda nyata menjadi suatu model yang tetap kita mengerti maksudnya. Contoh lainnya adalah gambar stick figure yang meskipun cuma lima garis dan satu lingkaran tetap bisa kita anggap sebagai manusia. Otak manusia bisa mengisi detail yang hilang dari gambar tersebut dari ingatan dan imajinasi.

Nah, coba pikirkan, kalau empat garis saja bisa kita anggap tombol, rasanya tidak mengherankan kalau siluet ranting pohon bisa kita kira hantu, bayangan gelap di sebuah foto langit kita kira UFO, bercak air di tembok terlihat seperti wajah tokoh agama tertentu, dan pola bulu kucing terlihat seperti tulisan tertentu dalam huruf Arab.

A useless machine?

During our trip back from Kediri to Bandung, my colleagues and I took the time to visit a beach near Ayah, Jawa Tengah. There, at first I was reluctant to play around and get my hands dirty, because I really had not prepared to go to a beach. But then I decided to go anyway. I made a structure from sands for one purpose: to contain water that later was used to wash away the grains of sand that sticked to my hands. Now this is where it gets interesting. This “machine” was made to wash my hands, but if I did not make this machine, my hands would not be dirty, therefore there would not be a need to wash my hands, i.e. there would be no need to build the machine. That’s why I call this thing “a machine which only purpose was to solve the problem created by the machine itself.” I was pretty sure some philosopher has ever thought about something like this, so it might already have a shorter, fancier name than what I mentioned, but I have not found anything about it during my “research” (read: search around with duckduckgo.com and google.com). Baca lebih lanjut

Jalur sepeda dan pengendara tak tahu malu

Beberapa minggu belakangan saya kalo pulang kantor lewat jalur sepeda. Wah asik juga ya, sudah ada jalur sepeda di sepanjang Jalan Dago mulai dari pertigaan Jalan Ganesha sampai hampir Simpang Dago, meskipun belum 100% siap pakai. Tapi kok di sepanjang jalur sepeda ada pohon, tiang listrik, penjual makanan, dan mobil parkir ya? Tadinya saya mau bahas tentang ini, tapi ada hal penting yang membuat hal-hal tersebut tidak begitu penting. Maklum lah kalau ada tiang listrik, karena jalur sepeda itu merupakan perluasan trotoar.

Senin (16/8) saya pulang lewat jalur sepeda lagi. Alangkah terkejutnya saya, lagi asik-asik mengayuh sepeda, ada motor yang memotong dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan dan tanpa ada niat untuk mengerem. (Dan di belakangnya ada tiga motor yang ikutan lewat jalur sepeda). Well, motor lewat trotoar/jalur sepeda sih memang sering, tapi yang ini tidak mempedulikan pengguna seharusnya. Untung refleks saya cukup baik untuk langsung mengerem tanpa terjadi kecelakaan. Tapi tentunya saya tidak terima dan langsung teriak, “OI!!”

Baca lebih lanjut

Bedanya “rat” dengan “mouse”

Kemarin sempat ada pembicaraan sedikit mengenai bedanya rat dengan mouse. Secara umum sih, gampangnya rat itu lebih besar dari pada mouse. Namun bagaimana membedakan rat yang masih muda (ukurannya masih kecil) dengan mouse dewasa?

Beberapa opini bermunculan, di antaranya rat memiliki ukuran kepala yang lebih besar, dan kaki-kaki yang lebih panjang. Tapi bagi saya sendiri ada ciri khusus untuk mouse, yaitu ekornya tipis dan panjang, dan diujungnya terdapat konektor USB atau PS/2. Bahkan sekarang sudah ada yang tanpa ekor alias wireless.

Peace :D

Bahasa atau Indonesian?

Saya sering heran dalam penggunaan nama Bahasa Indonesia dalam percakapan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia seringkali disebut “Bahasa”. Misalnya seseorang bertanya, “Do you speak Bahasa?” Saya bingung dengan penyebutan ini. Jika dikonversikan secara literal, sama saja dengan seseorang yang bertanya dalam bahasa Indonesia sehari-hari, “Kamu ngerti Language nggak?”

Bukankah kalau kita bercakap dalam Bahasa Indonesia, kita akan berkata, “Kamu ngerti Bahasa Inggris nggak?” Kalau begitu bukankah seharusnya dalam Bahasa Inggris kita bertanya, “Do you speak Indonesian?” Bukankah dalam Bahasa Inggris pun jika kita ingin menanyakan Bahasa Spanyol kita akan berkata, “Do you speak Spanish?” dan bukannya “Do you speak Español?” atau “Do you speak Lengua?” (“lengua” = “bahasa” dalam Bahasa Spanyol).

Ataukah bahasa kita terlalu arogan, sehingga memaksa bahasa lain (dalam hal ini Bahasa Inggris) untuk menggunakan kata “Bahasa” dalam kosakata mereka, dan mengubah tata bahasa mereka khusus untuk nama Bahasa Indonesia? Jika iya, memalukan sekali mengingat sangat sedikit orang Indonesia yang menguasai Bahasa Indonesia dengan baik. Bahkan nilai Ujian Nasional tingkat SMA rata-rata jatuh di mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Jadi bagaimana seharusnya yang benar:

“Do you speak Indonesian?”

atau

“Do you speak Bahasa?”