Are you (touchscreen) experienced

Saya pernah bilang: gak ada yg mengalahkan touchscreen experience di Windows Phone. Setidaknya menurut pengalaman saya, touchscreen Windows Phone adalah yang paling nyaman digunakan di antara mobile device yang pernah saya gunakan.

Sebagai pembuka tentunya perlu diklarifikasi dulu lingkungan mobile apa saja yang pernah saya gunakan: Windows Phone, iOS, sedangkan untuk Android palingan saya pernah pake hasil pinjam karena saya gak punya. Kalo Bl… Blek… Black… yah yang satu itu lah pokoknya, saya belum pernah pakai dan gak berniat untuk pakai juga. Oh iya, untuk Windows Phone saya cuma pernah pakai merk Nokia, belum pernah berjumpa langsung dengan device Windows Phone merk lain. Jadi mungkin saja superiority yang saya rasakan adalah sebagian karena Nokia, bukan karena Windows Phone saja. Saya juga bukan pengguna tablet, jadi bahasan ini terbatas pada device berukuran layar di bawah 6 inci.

Jadi aspek apa saja yang membuat saya berkesimpulan touchscreen di Windows Phone paling hebat? [Catatan: saya gak pakai metode kuantitatif (e.g. berapa persen huruf salah ketik ketika menggunakan suatu device), tapi cuma berdasarkan perasaan, terutama dari little annoyances yang dialami ketika menggunakan suatu device.]

Pertama soal akurasi. Ketika pertama kali pegang Windows Phone dan mencoba touchscreen keyboard-nya, saya mencoba mengetik beberapa kalimat dengan cepat dan tidak ada salah ketik satu huruf pun. Pada waktu itu saya belum pernah punya device yang pakai capacitive touchscreen. Bisa dibayangkan bahwa saya cukup takjub dengan pengalaman tersebut, karena sebelum-sebelumnya saya sudah pernah coba Android dan iOS, dan kesalahan ketik pada percobaan pertama tidak terelakkan. Untuk iOS, beberapa hari berinteraksi tapi saya masih beberapa kali salah ketik, sedangkan di Android relatively okay, di device yang kelas menengah ke atas hampir gak ada salah ketik, meskipun mungkin faktor ukuran layar Android yang semakin lama semakin besar ada pengaruhnya juga.

Akurasi tidak hanya soal keyboard. Secara spesifik pada iOS, yang saya alami adalah sulitnya mengakses tombol atau benda-benda yang posisinya ada di pinggir dan sudut-sudut layar. (Contoh kasus di mana hal ini paling terasa mengganggu adalah ketika main Candy Crush Saga dan harus menggeser permen yang posisinya ada di pinggir layar.) Hal ini diperparah dengan konvensi tombol navigasi aplikasi di iOS yang biasanya ada di area sudut layar.

Selain benda-benda yang mojok, tombol-tombol lain pada iOS terasa sulit untuk diakses dibandingkan Windows Phone dan Android. Bagi saya yang paling terasa adalah tombol untuk menginstall aplikasi dari App Store. Sebuah daftar aplikasi, umumnya terdiri atas icon dan nama aplikasi, diikuti dengan tombol yang menyatakan harga aplikasi tersebut (atau tulisan “FREE” untuk aplikasi gratisan). Untuk menginstal aplikasi, kita perlu mengetuk (tap) tombol tersebut, yang kemudian akan berubah menjadi tombol “INSTALL APP”, yang kemudian perlu kita ketuk lagi untuk memulai download. Nah pada saat mau menginstall aplikasi, yang sering saya alami adalah:

  • Mau pencet tombol “FREE” malah kepencet list item-nya sehingga malah pindah ke halaman informasi tentang aplikasi tersebut.
  • Sudah pencet tombol “FREE”, berubah jadi tombol “INSTALL APP”. Pencet tombol “INSTALL APP”, eh tombolnya malah balik jadi “FREE” lagi, bukannya memulai download.

Dan ini masih sering terjadi meskipun saya sudah menginstal banyak aplikasi. Saya pikir lama-lama akan terbiasa dan jadi lancar, tapi sejauh ini masih belum lancar. Bahkan kalaupun jadi lancar, di Windows Phone saya gak pernah mengalami hal seperti ini sejak hari pertama menggunakan.

Masih soal akurasi, ada lagi yang menakjubkan di Windows Phone, yaitu pada web browser-nya. Ketika sedang browsing suatu halaman yang banyak hyperlink dalam bentuk list dengan posisi berdekat-dekatan, somehow saya dengan mudahnya mengetuk hyperlink yang saya inginkan tanpa harus zoom in. Jarang sekali salah pencet ke hyperlink di atas atau di bawahnya. Saya gak tau bagaimana Microsoft merancangnya hingga bisa seperti itu, saya hanya bisa memberi dua jempol.

Soal akurasi belum selesai: gesture swiping pada iOS, berdasarkan pengalaman saya, kadang salah diinterpretasikan. Saya mau swipe kiri ke kanan beberapa kali dikira bawah ke atas. Paling terasa saat main Temple Run.

Aspek kedua menitikberatkan pada desain antar muka masing-masing environment tersebut. Biasanya urusan desain, Apple paling juara, tapi untuk kali ini medali emas saya berikan pada Windows Phone.

Pada Windows Phone, komponen-komponen pada aplikasi yang butuh interaksi dengan pengguna dikumpulkan di sisi bawah layar. Hal ini konsisten dengan posisi tangan saat memegang device: normalnya pangkal ibu jari berada di dekat sudut bawah device, sehingga lebih mudah untuk mengakses area layar yang berada di sisi bawah.

Secara spesifik, komponen-komponen tersebut adalah address bar pada browser dan application menu. Pada iOS dan Android, address bar pada browser terletak di sisi atas layar, mengikuti konvensi yang umum digunakan pada PC. Jadinya si jempol/pergelangan tangan ini terpaksa lebih sering berolahraga. Di Android masih agak mending: menu diakses melalui dedicated button yang ada di bawah layar, sedangkan pada iOS umumnya menu terletak di sudut kanan atas aplikasi. Sudah di atas, mojok pula. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, tombol yang ada di pojok-pojok layar di iOS susah diakses. Begitu juga dengan navigasi screen aplikasi (a.k.a. tombol “back“): Windows Phone dan Android menyediakan dedicated button di bawah layar, sedangkan pada iOS terletak di sudut kiri atas layar. Tombol terjauh yang perlu dicapai oleh jempol kanan.

Elemen desain berikutnya yang paling saya heran kenapa Apple bisa miss, adalah label pada keyboard. Pada keyboard PC, tombol-tombol huruf umumnya diberi label dengan huruf kapital. Tapi tentunya tombol yang sama bisa digunakan untuk mengetik huruf kecil maupun huruf kapital. Itu kan tombol hardware, jadi labelnya tidak bisa dinamis. Tapi pada touchscreen keyboard kan tidak begitu: pada Windows Phone, tombol huruf memiliki label huruf kecil jika akan menghasilkan huruf kecil, dan memiliki label huruf kapital jika akan menghasilkan huruf kapital (i.e. when “shift” is toggled on). Sebenarnya bukan hanya Windows Phone — seingat saya model seperti ini sudah diterapkan sejak Windows Mobile 5. I really think this one is a no-brainer and I really don’t see why Apple wouldn’t do that: di iOS label pada keyboard tetap huruf kapital baik sedang dalam mode “shift” maupun tidak. 

Kira-kira segitu pengalaman saya dalam ber-touchscreen. Pada PC memang sejauh ini yang saya rasakan, antarmuka yang paling nyaman digunakan adalah OS X > GNOME 3 >> Windows > GNOME 2 > lain-lain. Saya tidak bisa membandingkan tablet karena bukan pengguna tablet. Tapi untuk device di bawah 6 inci, bagi saya Windows Phone juara dalam segi interaksi. Windows Phone > Android > iOS. Kita lihat nanti apakah iOS 7 dengan perubahan paradigma desain yang radikal bisa mengalahkan saingan-saingannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s