Tentang film Inception, part I

Spoiler alert! Yang belum nonton jangan baca!

Sederhananya, Inception adalah film terkeren yang pernah saya tonton. Kalau mau diurutkan, menurut pendapat saya: Inception, Fight Club, The Matrix Trilogy, Memento, Ocean’s Trilogy. Itu pendapat saya lho, jadi tolong jangan didebat/dikritik.

Film Inception ini ide dasarnya adalah mimpi. Menjadi sangat menarik bagi saya, terutama karena saya sudah cukup lama memahami beberapa seluk beluk mimpi. Bahkan sempat beberapa kali menulis tentang mimpi di blog ini.

Mungkin yang sudah nonton bertanya-tanya, yang di film itu beneran mungkin terjadi ga sih? Nah, untuk itu pada post ini saya akan berbagi beberapa pengetahuan terkait dengan film tersebut, yang sedikit lebih detail dari pada yang pernah saya bahas di blog ini.

Jadi, konsep utama dalam film ini adalah memasuki mimpi seseorang (atau memaksa seseorang untuk memasuki mimpi kita/orang lain) untuk menarik informasi dari alam bawah sadarnya. Apa benar itu bisa dilakukan?

Untuk menjawabnya, konsep yang pertama perlu dijelaskan adalah lucid dreaming. Lucid dreaming adalah kondisi di mana seseorang bermimpi dengan menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Lucid dreaming dimulai dengan adanya dream realization, yaitu suatu saat di dalam mimpi ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Lebih mudah dijelaskan dengan contoh, yaitu di awal film ketika Saito terjatuh di apartemen dan menyadari karpet yang berbeda. Ia mengetahui bahan karpet yang sebenarnya (di kehidupan nyata) sehingga ketika melihat karpet dengan bahan yang berbeda, ia menyadari bahwa kejadian itu bukan nyata, melainkan mimpi. Itulah titik dream realization Saito pada mimpi tersebut. Selanjutnya, karena ia sudah mengetahui dirinya sedang bermimpi, ia bermimpi secara sadar atau lucid.

Tahap berikutnya adalah, jika seseorang sedang bermimpi secara lucid, ia dapat (bergantung pada tingkat percaya diri dan tingkat kesadaran di dalam mimpi) mengendalikan mimpinya (dream controlling). Hal ini ditunjukkan ketika Cobb sedang melatih Ariadne untuk menjadi arsitek mimpi. Pada saat bangunan-bangunan hancur di sekeliling Cobb dan Ariadne di kafe, itulah titik dream realization Ariadne. Selanjutnya, karena dia memiliki tingkat kesadaran dalam mimpi yang tinggi, ia langsung bisa mengubah lingkungan dalam dunia mimpi sesuai dengan keinginannya. Itulah dream controlling.

Sebelumnya disebutkan kendali atas mimpi juga bergantung pada kepercayaan diri. Mimpi sepenuhnya diatur oleh pikiran kita, tanpa terikat oleh hukum yang berlaku, bahkan hukum fisika sekalipun. Oleh karena itu, tergantung pada apa yang kita percaya untuk dapat mengendalikan mimpi: dari hal yang sederhana seperti terbang hingga hal yang kompleks seperti mengubah seluruh dunia mimpi, seperti yang dilakukan Ariadne dengan membengokkan sebagian kota menjadi tegak lurus dengan horizon. Contoh lain adalah pada saat melawan penjaga mimpi Fischer, Arthur hanya menggunakan senjata biasa, sedangkan Eames dengan kepercayaan diri yang tinggi dapat mengeluarkan senjata yang lebih oke, sekali “boom” mati semua.

Ada satu hal lagi yang mempengaruhi mimpi, yaitu subconsciousness alias alam bawah sadar. Mimpi sepenuhnya dikendalikan oleh pikiran kita, namun sayangnya di dalam pikiran kita pun ada sesuatu yang tidak kita sadari, yaitu subconsciousness ini. Oleh karena itu, bisa saja dalam mimpi ada bagian yang sepertinya tidak dapat kita kendalikan, tapi itu sebenarnya masalah kesadaran saja. Dalam film Inception, ini digambarkan dengan orang lain yang ada dalam mimpi kita, meskipun secara teori sebenarnya tidak harus selalu begitu.

Bersambung…

Iklan

5 thoughts on “Tentang film Inception, part I

  1. Ping balik: Tentang film Inception, part II « blackfox's burrow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s