Avatar: lessons learned

Setelah post sebelumnya yang berisi kritik terhadap detail film Avatar, kini saatnya pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik.

Sebelumnya dimulai dari definisi kata avatar: embodiment: a new personification of a familiar idea; “the embodiment of hope”; “the incarnation of evil”; “the very avatar of cunning”.

Pada film ini, sebuah avatar adalah tubuh hasil rekayasa genetis persilangan manusia dengan na’vi yang dibuat oleh ilmuwan manusia. Avatar ini dikendalikan oleh manusia sumber gen yang digunakan untuk membuat avatar tersebut melalui pikiran. Jake Sully, yang mengalami cacat pada kaki sehingga tidak dapat berjalan, senang dengan avatarnya, sebab dengan tubuh avatarnya ia mampu berjalan dan berlari kembali, hingga pada suatu titik Sully merasa bahwa avatarnya adalah dirinya yang sebenarnya, sedangkan tubuh fisik manusia aslinya adalah hal yang tidak nyata. Bagi saya, hal ini memberi sebuah pelajaran bagi para penonton: berapa kali kita, sebagai manusia di era informasi, bersembunyi di balik avatar dunia maya kita? Betapa kita seringkali menyembunyikan diri kita yang sebenarnya ketika berinteraksi secara online.

Pelajaran kedua didapat dari kepercayaan suku Omaticaya bahwa setiap orang (umm, sebenarnya na’vi, bukan orang :p) dilahirkan dua kali: yang pertama adalah saat seseorang dilahirkan oleh ibunya, dan yang kedua adalah saat ia menemukan tempatnya di dunia. Inilah “kelahiran kedua” Jake Sully, yaitu saat ia merasa bahwa tempatnya adalah sebagai seorang na’vi di suku Omaticaya, dan bukan lagi sebagai manusia yang menjalankan misi dari Col. Quaritch. Hal ini mengajari penonton bahwa hal yang penting dari seorang manusia bukanlah dilahirkan oleh siapa, di keluarga apa, dalam kondisi yang seperti apa. Yang penting bukanlah masa lalu yang tidak dapat diubah. Yang penting adalah menemukan tempat di masyarakat, dan menjalani peran tersebut di masyarakat dengan sebaik-baiknya, memberi kontribusi pada masyarakat tersebut.

Pelajaran ketiga saya dapat dengan sedikit mengubah sudut pandang. Sepanjang film, penonton difokuskan kepada kehidupan emosional pribadi Sully, sehingga terbawa bahwa Sully adalah tokoh baik hati, sedangkan Col. Quaritch adalah tokoh jahat. Namun sebagai seorang manusia, saya mencoba mengambil sudut pandang bahwa Sully adalah seseorang yang mengkhianati kaumnya sendiri, manusia, dan berpaling ke kaum lain, yaitu kaum na’vi. Namun rupanya setelah mengambil sudut pandang demikian pun saya tetap merasa perbuatan Col. Quaritch tidak sepenuhnya benar. Rupanya manusia, yang disimbolkan oleh Col. Quaritch dan kawan-kawan, terlalu terbutakan oleh uang, hasrat untuk memiliki Unobtanium yang berada di bawah pohon Kelutrel sehingga menghalalkan segala cara, bahkan meski harus menghancurkan sebuah spesies cerdas. Intinya hal ini membuktikan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan.

Pelajaran terakhir pada post ini saya dapat dari Tsu’Tey, calon pemimpin suku Omaticaya di awal cerita, yang terkesan jahat karena membenci dan tidak mempercayai Sully. Namun sepanjang berjalannya cerita, saya mendapati bahwa sikap ini adalah sikap yang tidak salah — pada kenyataannya Sully, meskipun sebagai tokoh utama, memang tidak sepatutnya dipercaya oleh suku Omaticaya, karena rupanya ia memang mata-mata yang dikirim oleh musuh (yaitu manusia). Hal ini mengajarkan untuk tidak mudah percaya pada seseorang, karena siapa yang tahu apa yang ada di balik kebaikan seseorang?

Iklan

5 thoughts on “Avatar: lessons learned

  1. meliza766hi

    hmm, tambahan dari saia dari sisi sosialis nya :
    ada 3 tipe :
    – budaya kolonialisme : cenderung nguasain yang primitif
    – budaya lokal / primitif
    – budaya pro (antara kolonialisme dan lokal) ,, nah yang ini bisa ngeliat dari sudut pandang lain, kalo masih bisa cara damai , kenapa enggak?
    yang ini dicontohkan oleh kaum2 peneliti (*gw lupa nama ilmuan cewe itu)..

    di dunia nyata pun kerap terjadi hal yang beginian..
    hohoooo

    Balas
        1. restya

          ^-
          pasti belum nonton :P

          iya, Sat wlopun awalnya aq menganggap Quartich itu patuh pada tugas… pas dia seneng ngliat hutan hancur, jadi ilfeel juga :(
          anyway, suku2 prmitif di belahan dunia bukannya pernah mengalami hal yang mirip, ya? digusur2 :(

          Balas
  2. reza

    aku melihat ini sebagai pertarungan orang2 yang setia dengan keyakinannya (dan tetap menghormati alam) melawan orang2 yang memandang kuno mereka.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s