Inilah mengapa

Inilah mengapa Jumat kemarin saya tidak demo progsis ataupun ikut kumpul angkatan. Inilah mengapa Sabtu dan Minggu saya tidak latihan Capoeira. Sebenarnya alasannya bukan hanya ini, tapi yang ini menjadi sangat signifikan.

Berawal dari beberapa hari sebelum Jumat (lupa persisnya), gigi saya terasa sakit. Singkat kata, setelah dibandingkan, akhirnya diputuskan bahwa lebih baik jika diperiksakan di Depok dari pada di Bandung. Namun dokter gigi saya hanya praktek hari Senin hingga Jumat, sehingga terpaksa saya meninggalkan benda-benda yang saya sebutkan di paragraf pertama untuk melesat ke Depok di hari Jumat pagi yang tidak terlalu cerah.

Selama di Depok tentunya diisi dengan macar juga, tapi mungkin nanti itu jadi satu post sendiri :D

Anyway, setelah ke dokter gigi, pak dokter berkata bahwa gigi saya tumbuh tidak normal (maklum lah, orangnya pun gak normal kok) dan beliau menyarankan untuk foto Panoramik (dukun di desa Asterik dan Obelik) ke rumah sakit. Saya pun langsung melesat ke rumah sakit Mitra Keluarga, Depok, untuk foto Asterik. Maaf, Panoramik maksud saya. Dan inilah hasilnya, tidak sesuai dengan dugaan saya sebelumnya:

panoramik

Klik pada gambar untuk ukuran penuh

Dapat dilihat, berdasarkan (1) dan (2), kedua gigi terbelakang di rahang bawah saya (bukan, terbelakang maksudnya bukan idiot) tumbuh dengan arah yang tidak wajar, yaitu ke arah depan. Yang menyebabkan sakit adalah gigi pada (2) telah menabrak gigi di depannya sehingga menimbulkan lubang (3). Sakit lho… Oleh karena itu gigi (1) dan (2) harus dicabut. Selain itu, karena kedua gigi tersebut tidak normal (sebagaimana pemiliknya), maka kedua gigi di atasnya, (4) dan (5), tumbuh lebih panjang daripada gigi-gigi di sebelahnya. Apalagi kalau (1) dan (2) dicabut, (4) dan (5) akan tumbuh lebih panjang lagi. Maka dokter pun berkata bahwa sebaiknya (4) dan (5) dicabut juga, meskipun tidak harus.

Namun tidak semudah itu! (1) dan (2) tidak dapat dicabut begitu saja, karena akar dari kedua gigi tersebut posisinya terlalu dekat dengan pembuluh darah terbesar di rahang (garis putih sejajar yang ditunjukkan oleh (6) dan (7)). Jika terjadi kesalahan dalam pencabutan (1) atau (2), bisa-bisa pembuluh tersebut pecah dan keluarlah darah yang sangat banyak (rasanya asin). Oleh karena itu, untuk mencabut kedua gigi laknat tersebut saya harus ke spesialis bedah mulut. Namun sayangnya saat itu sudah Jumat malam, jadi tidak mungkin gigi saya dicabut minggu ini, yang berdampak pada hari Kamis depan saya harus kembali lagi ke Depok untuk cabut gigi. Padahal seandainya kedua gigi tersebut tidak terlalu dekat dengan pembunuh… maksud saya pembuluh darah, gigi-gigi bermasalah itu bisa langsung dicabut hari Jumat malam itu juga.

Belum selesai! Saatnya bagian yang paling menarik: saya punya tiga puluh tiga gigi! Perhatikan lingkaran (8), di dalam rahang bawah saya masih tersembunyi sebuah gigi laknat lainnya yang untungnya tidak muncul ke permukaan. Dengan lidah dapat dirasakan bahwa kelebihan gigi tersebut berada di balik gusi, di belakang geraham kedua dan ketiga. Yang pertama kepikiran tentunya, “What the heaven is a tooth doing here?” Oke, sebenarnya yang pertama kepikiran bukan heaven. Dokter pun berkata bahwa itu adalah suatu bentuk kelainan, yaitu saya memiliki terlalu banyak benih gigi. Benih gigi? Kalo ditanam bisa tumbuh jadi pohon gigi dong?

Huahahahaha… Gigi-gigiku, beranak-cuculah dan penuhilah bumi. Huahahahaha…

Untungnya, kata pak dokter, kalau gigi ke-33 itu tidak menyebabkan rasa sakit, ia tidak perlu dicabut. Wew, gimana ya caranya nyabut gigi yang bersarang di dalam rahang begitu?

Iklan

13 thoughts on “Inilah mengapa

  1. loly_ice_bonbon

    WOw, luar biasa, saya sebagai yang bergigi ganjil juga (29 buah, gigi taring gw ada 5 lho), merasa takjub melihat fenomena ini.

    Gigi yang atas mending dicabut, kenapa? gusi bawah kemungkinan bakal sering luka klo nggak, klo udah luka pasti ga bisa nguyah (kemaren gw sariawan di daerah itu, wuih, makan harus diemut gara-gara ga bisa nguyah..)

    Balas
    1. rsatrioadi Penulis Tulisan

      iya betul gul.. tapi agak2 males juga nyabut dua gigi itu.. selain gigi gw nanti jadi semakin dikit, kalo nyabut yang dua itu juga tentunya bayar lagi (LOL)

      Balas
  2. Triana

    ho…
    kakak nim…
    mending dicabut sih kakak..
    gigi 1 2 4 5..

    hmmm…sebagai orang yang pernah dibius buat
    operasi gusi juga…
    ga ada rasanya kok sat.. hehehe… :D
    apa gw yang aneh ya? :P
    tau2 ada kapas2 merah dikeluarkan dari dalam mulut… :P

    tapi serius ga kerasa sakit
    sama sekali..

    semangat2…
    semoga sukses.. :)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s