Dreaming is believing

Seperti yang saya katakan pada beberapa post yang lalu, saya sering mendapatkan ilham melalui mimpi. Tampaknya mimpi adalah istimewa bagi saya. Bahkan beberapa hari yang lalu saya mengalami fenomena lain lagi saat tidur dan bermimpi. Untuk itu pada post kali ini saya membahas dua buah fenomena saat tidur yaitu sleep paralysis dan lucid dreaming. Sebelumnya saya mulai dengan apa itu mimpi (secara ilmiah)?

Apa Itu Mimpi?

Otak kita membangun sebuah model dunia. Saat terbangun, model ini dipengaruhi oleh kondisi nyata dari dunia ini, yaitu fakta-fakta yang dapat kita alami dengan indera-indera kita. Ketika tidur, indera kita tidak penting, maka otak membangun sebuah model dunia dengan sumber yang berbeda, yaitu asumsi, motivasi, dan ekspektasi kita.

Saat terbangun, ketiga sumber ini tertutupi oleh indera kita, karena kita cenderung lebih mudah mempercayai apa yang bisa dirasakan secara nyata. Maka saat tidur, ketiga sumber ini dapat digunakan dengan leluasa karena tidak “terganggu” indera kita yang sedang tidur.

Maka, mimpi bukanlah pesan dari alam bawah sadar melainkan gambaran dari cara kerja pikiran kita yang tak terbatas oleh tubuh fisik.

Sleep Paralysis

Sleep paralysis biasa dikenal oleh orang Indonesia sebagai tindihan, yaitu saat terbangun dari tidur dan mendapati seluruh tubuh tidak dapat digerakkan dan kadang disertai sesak nafas. Biasanya pada kondisi seperti ini kita juga merasa melihat bayangan-bayangan atau semacam halusinasi sehingga orang sering mengasosiasikan fenomena ini dengan hal supranatural. Apa yang sebenarnya terjadi?

Pada tahap tidur REM (Rapid Eye Movement), yaitu saat bermimpi, tubuh memiliki mekanisme untuk membuat seluruh badan tidak dapat bergerak (paralysis), agar gerakan-gerakan yang terjadi dalam mimpi tidak membuat fisik yang sebenarnya ikut bergerak. Namun antara lain jika pola tidur tidak teratur, bisa saja paralysis ini terjadi bukan pada tahap REM. Jika kita terbangun pada saat tubuh kita “terkunci” seperti ini, inilah yang biasa disebut tindihan. Nah, pada kondisi seperti ini otak biasanya masih bermimpi meskipun kita sudah bangun sehingga muncullah bayangan-bayangan atau halusinasi itu. Karena setengah sadar dan setengah bermimpi, kita seringkali mengira yang terjadi di mimpi itu terjadi pada kehidupan nyata. Tak heran banyak kebudayaan yang mengasosiasikan fenomena ini dengan hal-hal supranatural, seperti di Georgia dan South Carolina yang menyebut fenomena ini dengan hag-ridden atau diduduki oleh makhluk halus (yang disebut hag) saat tidur.

Lucid Dreaming

Lucid dreaming sederhananya adalah kondisi saat bermimpi di mana kita menyadari bahwa kita sedang bermimpi. Biasanya fenomena ini terjadi saat kita menyadari suatu kejadian yang mustahil (misalnya melihat babi terbang) saat bermimpi sehingga sadar bahwa kejadian itu adalah mimpi dan bukan kenyataan. Meskipun tidak selalu, saat mengalami lucid dreaming kita dapat mengatur berjalannya mimpi. Kemampuan untuk mengatur mimpi, bahkan hingga yang paling ekstrim mengubah mimpi seutuhnya (latar belakang, jalan cerita, tokoh, dan sebagainya), ditentukan oleh kepercayaan diri.

Beberapa contoh manfaat lucid dreaming adalah:

  • Fantasi. Pada saat bermimpi sebenarnya kita tidak dikendalikan oleh hukum fisika maupun norma masyarakat, maka dengan lucid dreaming kita dapat merasakan apapun yang kita inginkan, jika kita bisa mengendalikannya. Ini membantu memberi motivasi dalam menjalani aktivitas yang sebenarnya, yaitu saat terbangun.
  • Mengatasi mimpi buruk. Salah satu contoh yang baik adalah kejadian yang dialami vokalis Creed, Scott Stapp, yang mengilhaminya menulis lagu Higher. Ia berkali-kali mengalami mimpi buruk di mana ia mengendarai mobil, belok ke kiri, kemudian di sana ada seorang pembunuh yang menembaknya dengan senjata api. Ia pun mempelajari terapi dengan lucid dreaming. Akhirnya, dengan teknik lucid dreaming dan mengendalikan mimpi, ketika mengalami mimpi itu lagi, ia berhasil mengendalikan dirinya untuk berbelok ke kanan, tidak bertemu pembunuh, dan selamat. Sejak itu ia tak pernah mengalami mimpi itu lagi.
  • Solusi. Saat tahap REM, otak bekerja dengan sangat aktif. Oleh karena itu, jika menguasai lucid dreaming, kita dapat membawa persoalan dalam kehidupan nyata untuk dicari solusinya menggunakan kinerja otak saat tahap REM. Jika dihubungkan dengan saya sendiri, karena saat itu belum menguasai lucid dreaming, berarti ilham-ilham yang saya dapat dari mimpi ini datangnya saat tahap REM dan pada saat itu topik permasalahan sedang teringat. Jika menguasai lucid dreaming, saya yakin akan lebih banyak lagi persoalan yang dapat saya selesaikan melalui mimpi.

Masih ada beberapa manfaat lain, tapi menurut saya ketiga poin di atas yang paling penting.

Saya sendiri sering mengalami sleep paralysis karena pola tidur yang sering berubah-ubah, dan menurut para ahli sleep paralysis ini membantu dalam menciptakan lucid dreaming. Minggu lalu pertama kalinya saya mengalami lucid dreaming, kejadiannya adalah saat tidur saya bermimpi menjadi awak kapal abad pertengahan (mungkin karena sedang senang main game Pirates!). Lalu di fisik yang sebenarnya ada nyamuk yang menggigit saya. Karena itu saya pun sadar bahwa saya sedang tidur di Depok, karena di kamar saya di Bandung tidak ada nyamuk. Jika demikian, berarti kapal abad pertengahan itu pasti mimpi. Maka saya pun secara sadar melanjutkan mimpi itu meskipun saat itu belum mengendalikannya, sambil terheran-heran, “Kok saya bisa mimpi sambil sadar?” karena waktu itu belum pernah dengar tentang lucid dreaming.

Kemarin, saya yakin bukan kebetulan, saat sedang meneliti lagu Higher, saya menemukan asal usul lagu tersebut seperti yang saya jelaskan di atas. Saya pun kaget dan berpikir, “Wah, ini kan fenomena yang saya alami minggu lalu!” Maka saya mempelajari lebih lanjut mengenai lucid dreaming termasuk bagaimana melakukannya dengan sengaja, dan menemukan hubungan dengan fakta bahwa selama ini saya sering mendapat ilham melalui mimpi.

Akhirnya, tadi malam saya berhasil secara sengaja membentuk lucid dreaming meskipun lagi-lagi masih pada tingkat rendah.

Hidup jadi semakin menarik, saya tak sabar untuk dapat menguasai mimpi!

Lebih lanjut mengenai lucid dreaming.

Iklan

11 thoughts on “Dreaming is believing

    1. rsatrioadi Penulis Tulisan

      sesuai yang gw bilang di atas bahwa kita cenderung lebih mudah mempercayai yang bisa kita tangkap dengan indera, jadi gw menganggap chakra atau aura atau apapun (karena ga bisa gw lihat dengan mata gw) sebagai konsepsi yang berlandaskan psikologi. bukan benda nyata, tapi cuma konsepsi. benda nyatanya adalah psikologi. hehehe..

      btw ganti e-mail lagi wan?

      Balas
  1. ghe2

    hmm…sering ngalamin tindihan alias sleep paralysis.

    gw ga perna inget detil mimpi, makanya kayanya susa buat ngendaliin mimpi :D

    Balas
    1. rsatrioadi Penulis Tulisan

      tepat sekali bahwa kemampuan mengingat mimpi setiap hari adalah tahap awal menuju lucid dreaming dan akhirnya dream controlling.. dan kemampuan mengingat mimpi itu bisa dilatih.. implikasinya, lucid dreaming & dream controlling pun bisa dilatih.

      Balas
  2. Ping balik: Tentang film Inception, part I « blackfox's burrow

  3. thedkone

    aku pernah tuh lucid dream terbang tapi tebalik malah kakinya yang buat gas..
    ngeliat pemandangan dari atas sungguh menakjubkan..
    karena susah ngontrolnya ampir mau nabrak pohon…ckckckckck

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s