Merah Putih, perfilman Indonesia, nasionalisme

Akhir-akhir ini bermunculan film-film di Indonesia yang menyerukan semangat nasionalisme. Di antaranya Garuda di Dadaku, Merantau, dan, yang saya tonton bersama teman-teman sekitar minggu lalu, Merah Putih.

Ada beberapa poin khususnya untuk film Merah Putih ini yang perlu diperhatikan:

[SPOILER WARNING]

  • Film bernafaskan nasionalisme ini dipimpin oleh orang asing, dalam arti bukan orang Indonesia, sebagai executive producer. Begitu juga dengan kru special effects. Mengenai special effects tentu demi kualitas.
  • Sayangnya, efek-efek yang luar biasa itu tidak didukung dengan skenario yang baik. Mungkin bukan skenario lebih tepatnya, tapi detail pada tiap adegan. Misalnya saja (saya ingatkan lagi SPOILER WARNING!) ketika Marius meninggalkan Surono yang sekarat, kemudian tiba-tiba secara sangat kebetulan (a la sinetron Indonesia) Tomas dan Senja “tersasar” ke lokasi sekaratnya Surono, tiba-tiba semua suara tembakan terhenti. Hening. Padahal seharusnya mereka sedang dikejar tentara Belanda. Contoh kedua adalah ketika memperingatkan warga desa, pemeran Dayan tampak melupakan logat Balinya.
  • Special effects memang memiliki kualitas yang tinggi, namun sayangnya beberapa efek ditempatkan pada adegan yang salah.

[/SPOILER WARNING]

Dengan beberapa kritik saya di atas, bukan berarti saya benci atau tidak suka dengan film tersebut. Film Merah Putih menurut saya benar-benar dapat menyuarakan semangat nasionalisme. Selain itu, memang wajar jika kualitas belum maksimal, akhir-akhir ini tidak ada film Indonesia pada genre tersebut. Kritik saya justru inginnya untuk membangun, supaya perfilman Indonesia meningkatkan kualitasnya.

Sudah saatnya Indonesia merilis lebih banyak lagi film bersemangat nasionalisme. Bukan hanya film-film drama yang berlebihan atau film horor yang justru mengekspos bentuk tubuh para pemainnya ketimbang horor yang mencekam. Sudah saatnya, untuk generasi muda yang semakin kehilangan semangat nasionalisme ini. Kemarin masih dengan bantuan orang asing, selanjutnya biarkan anak bangsa yang maju!

Iklan

3 thoughts on “Merah Putih, perfilman Indonesia, nasionalisme

  1. Rudy Irawan

    Apa iya waktu itu kita sudah punya Sekolah Tentara Rakyat?
    Lagi pula Apa iya juga Kristen ngajarin mata ganti mata?
    Piye iki Pak Hashim?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s