Seputar Pilpres di tempat saya

7 Juli 2009

Hari ini saya sengaja datang ke kantor satu jam lebih pagi, yaitu pukul 08.00, supaya bisa pergi lebih awal karena dari kantor saya langsung mengejar travel menuju Depok, tempat saya akan memilih dalam Pilpres ini. Pukul 16.30 saya pun meninggalkan kantor meskipun travel baru berangkat pukul 17.30, karena saya merasa jalan akan macet. Benar saja, jalan macet namun tidak semacet dugaan saya, sehingga saya pun cukup awal tiba di pool travel. Perjalanan saya ditemani oleh indahnya bulan purnama.

Begitu tiba di Depok, saya mendapat kabar bahwa seisi rumah saya tidak mendapat undangan untuk memilih. Nah lo, padahal waktu Pileg kami terdaftar dan lancar-lancar saja. Cuih, saya pun menonton pemakaman Michael Jackson di televisi (oke, memang gak nyambung).

8 Juli 2009

Kabar dari bude saya yang juga tetangga persis depan rumah saya, pada hari Senin (6 Juli) satpam membawa undangan untuk kami namun karena saat itu rumah kosong, undangan dibawa kembali dan akan diantarkan lagi Selasa (7 Juli) malam. Tapi rupanya Selasa malam tidak ada yang datang ke rumah saya. Oke, pukul 09.00 saya langsung mendatangi Pak RT untuk menanyakan hal tersebut. Nah lo, kata beliau tidak ada surat undangan untuk seisi rumah saya. Jadi ke mana perginya surat undangan yang sempat datang pada tanggal 6 Juli itu? Akhirnya saya pun pulang lagi karena Pilpres untuk yang menggunakan KTP (tidak dapat undangan) baru akan dilayani pukul 12.00 – 13.00. Cuih, sudah seperti hukuman saja, padahal bukan saya yang salah?

Pukul 11.50, sudah harap-harap cemas, masih dapat surat suara atau tidak? Kalau tidak khan saya bisa masuk koran karena menuntut KPU yang telah merampas hak politik saya yang sudah jauh-jauh (gak jauh-jauh amat, sih) datang dari Bandung. Tadinya mau bawa pisau untuk jaga-jaga kalau petugas KPU macam-macam (kalau membela diri bukan tindak pidana kan?), tapi ternyata koleksi saya ketinggalan di Bandung, jadi ya sudah lah.

Namun toh akhirnya saya dapat surat suara (gak jadi masuk koran, deh). Di bilik suara (bilik suara TPS di tempat saya selalu lega karena dibuat sendiri oleh warga, bukan kaleng kerupuk yang dari KPU), saya sempat bingung, bolak-balik buka-tutup surat suara, bertanya-tanya, “lho, ini foto saya kok gak ada di surat suara, saya nyontreng siapa dong?” Cuih, akhirnya saya dengan berat hati memutuskan untuk mencontreng salah satu pasangan. Kemudian saya pun mencelupkan dua jari tangan kanan saya ke tinta sebagai bukti sudah memilih.

Mengapa dua jari?

Karena saya ingin menguji kekuatan tinta dari KPU ini. Saya mencelupkan jari tengah dan jari manis, karena sesampai di rumah saya akan langsung mencuci tinta di jari manis dan membiarkan yang di jari tengah untuk dibandingkan. Kenapa yang tidak dicuci yang jari tengah? Yah, sudah tahu lah ya. Hehehe… Inilah tahapan-tahapan tinta Pilpres:

  1. Masih fresh, jari tengah dan jari manis (semanis wajahmu, cuih) berlumur tinta ungu berlapis hijau keemasan. Hijau keemasan!! Coba saya tanya, apa warna jaket HMIF? Hijau keemasan!! Yeah!
  2. Jari manis saya aliri air (tidak digosok). Tinta hijau keemasan langsung luntur (yaaah…), sedangkan tinta ungu tetap kokoh. Jari tengah tetap berlumur tinta ungu berlapis hijau keemasan.
  3. Jari manis saya gosok dengan sabun. Tinta yang berada di kuku dapat dibersihkan dengan baik, sedangkan yang menempel di kulit memudar namun belum hilang sepenuhnya. Jari tengah masih bersinar hijau keemasan di atas ungu. Langsung teringat lagu Jamrud, “diacungkan jari tengah ke arah Surti…”
  4. Beberapa jam kemudian, jari manis masih nampak seperti pada poin 3, sedangkan pada jari tengah, tinta hijau keemasan entah sudah menguap atau meresap, yang pasti sudah tidak terlihat lagi. Jari tengah sekarang berwarna ungu.
  5. Dua minggu lagi, berdasarkan pengalaman yang lalu, karena saat ini di kuku jari manis sudah tidak ada tinta, maka jari manis saya akan bersih total dari tinta. Sementara itu, karena tinta di kuku jari tengah akan sudah mengering, maka kuku jari tengah saya akan masih berwarna cokelat dan tidak bisa dibersihkan selain dengan menunggu kuku tumbuh, dikikir, atau cabut kuku (ouch!).

DPT oh DPT

Terakhir, saya mempertanyakan pekerjaan KPU. Mengapa harus ada DPT? Malah bikin masalah saja. Bukankah KTP sudah cukup? KTP adalah Kartu Tanda Penduduk, di sana sudah tertera usia, status perkawinan, dan pekerjaan. Tiga atribut yang sudah cukup menentukan seseorang boleh memilih atau tidak. Jika ketakutannya adalah memilih berulang kali di TPS yang berbeda, mudah saja. Cukup tahan KTP hingga pemilihan berakhir dan/atau sediakan tinta yang lebih kuat dan tidak mudah dibersihkan. [kalimat yang seharusnya berada di sini terlalu kasar sehingga tidak jadi saya publikasikan karena ogah dituntut macam kasus Bu Prita].

Sekian, terima kasih.

Iklan

10 thoughts on “Seputar Pilpres di tempat saya

  1. Desy

    ga da DPT? terus berapa bnyk surat suara yg harus disiapkan d setiap TPS?

    KTP ditahan? menyeramkan.. lebih baik siap2 bikin baru, mgkn bakal hilang kecampur2 ntah gmna..

    tinta yg lebih tahan lama? tinta yg skrg aj uda bikin org berantem.. tinta yg lbh tahan lama mgkn bkin org bunuh2an.. dan lu bs dituntut sm org2 yg merasa kukunya cantik dan perlu dipertahankan.

    ya, there are two sides to every story.. hehehhee..

    Balas
    1. rsatrioadi Penulis Tulisan

      ga da DPT? terus berapa bnyk surat suara yg harus disiapkan d setiap TPS?

      sesuai dengan jumlah penduduk yg terdaftar di RT/RW setempat.

      KTP ditahan? menyeramkan.. lebih baik siap2 bikin baru, mgkn bakal hilang kecampur2 ntah gmna..

      ah di jawa timur baik-baik saja… lagian cuma 1-2 RT, ga banyak-banyak amat lah kalo manajemennya bagus…

      tinta yg lebih tahan lama? tinta yg skrg aj uda bikin org berantem.. tinta yg lbh tahan lama mgkn bkin org bunuh2an..

      emang ada apa? gw ketinggalan berita nih soal yang ini…

      dan lu bs dituntut sm org2 yg merasa kukunya cantik dan perlu dipertahankan.

      –”

      ya, there are two sides to every story.. hehehhee..

      tentu saja, saya juga penganut paham ini sejak semester 4 a.k.a. sejak baca buku Modern Operating System bikinan Tanenbaum yang sangat menginspirasi itu.

      Balas
  2. Desy

    cm 1-2 RT? d mn tuh? kok dikit amat?
    manajemen bagus, itu kuncinya mas.. klo manajemen bagus mah DPT g mslh.. hahahaha..

    ada yg berantem gr2 g mau celupin tangan k tinta.. gw lupa detailnya, klo g slh sih krna mau ibadah. katanya itu kan g boleh.. tampaknya penggunaan tinta ini msh sgt kontroversial.

    ttg perawatan kuku.. itu beneran loh.. bnyk yg kepikiran. serius. ada yg ngasi tips tuh d fesbuk biar tinta gmpg lepas. nah lo..

    Balas
    1. rsatrioadi Penulis Tulisan

      cm 1-2 RT? d mn tuh? kok dikit amat?

      ya kalo mau pake KTP semua dikecilin aja lingkupnya biar ga repot…

      manajemen bagus, itu kuncinya mas.. klo manajemen bagus mah DPT g mslh.. hahahaha..

      kalo manajemen bagus ga perlu DPT :D

      ada yg berantem gr2 g mau celupin tangan k tinta.. gw lupa detailnya, klo g slh sih krna mau ibadah. katanya itu kan g boleh.. tampaknya penggunaan tinta ini msh sgt kontroversial.

      oh, itu toh. pilih ibadah apa starbucks gratis? hahaha..

      ttg perawatan kuku.. itu beneran loh.. bnyk yg kepikiran. serius. ada yg ngasi tips tuh d fesbuk biar tinta gmpg lepas. nah lo..

      dasar orang2 metroseksual.. pentingan mana sih diri sendiri sama nasib bangsa selama 5 taun?

      Balas
  3. TitzZz

    Kalo ada orang Jakarta yang tinggal di Padang ato Papua tapi belum bikin KTP setempat (KTP Ganda dong? ga bisa milih dong sat kalo pake KTP?
    kalo KTP ga tergantung tempat tinggal yang tercantum? bisa milih di mana aja dong…

    bingung kan

    Balas
    1. rsatrioadi Penulis Tulisan

      kalo kasus pertama, sama aja dong masalahnya dengan sistem DPT sekarang? sistem sekarang juga kan kalo gw ga bikin KTP bandung, ga bisa nyontreng di bandung.. tapi dengan KTP kan lebih pasti se-TPS terdaftar, ga bolak balik: level bawah ngirim daftar warga, level atas nyusun DPT, trus dikirim balik ke level bawah. titik rawannya ada dua, kalo pake KTP kan titik rawannya cuma satu dan dekat dengan warga langsung..

      kalo kasus kedua emang masalah di pengadaan surat suaranya..

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s