Pencarian bagian III: indera

Ketika menyebut seni, bagaimana bisa kita melupakan indera. Suatu karya seni pertama kali ditangkap melalui indera kita, baru kemudian diteruskan oleh sistem saraf lalu diterjemahkan oleh otak. Bicara soal seni, biasanya yang dominan adalah penglihatan (visual) dan pendengaran (audio). Bagaimana dengan indera yang lain? Selengkapnya:

Penglihatan

Seni yang berkaitan dengan penglihatan, tentu saja ada bermacam-macam: lukisan, gambar, poster, layout untuk publikasi (misalnya brosur), dan sebagainya.

Pendengaran

Musik. Masih perlukah dibahas?

Peraba

Adakah karya seni yang dapat dinikmati dengan indera peraba? Tentu saja. Misalnya saja patung. Sebagai penikmat seni, biasanya patung hanya dilihat. Apalagi patung-patung kuno di museum yang tidak boleh disentuh. Akan tetapi seni bukan hanya bagaimana dinikmatinya, melainkan juga bagaimana diciptakannya. Sudah saya sebutkan sebelumnya, saya pernah beberapa kali membuat patung. Dan kesempurnaan sebuah patung pada saat pembuatan hanya dapat diuji dengan merabanya. Banyak ketidaksempurnaan yang tidak dapat terlihat mata, hanya dapat ditemukan oleh jari.

Perasa

Makanan yang lezat selalu membuat lidah bergetar bahkan sebelum makanan tersebut menyentuh lidah. Jangan disangka makanan bukan sebuah karya seni. Kembali ke definisi, seni adalah ungkapan ide atau perasaan. Tanpa perasaan, tak mungkin seorang juru masak dapat menentukan bumbu dengan ukuran yang tepat untuk suatu masakan. Hal ini berlaku untuk juru masak yang tidak menggunakan penyedap rasa seperti MSG. Yang demikian sama saja membuat presentasi PowerPoint™ dengan template.

Penciuman

Saya tidak bisa berkata banyak. Analog dengan indera perasa, ganti makanan dengan parfum. Harus dengan perasaan untuk menentukan campuran yang tepat untuk sebuah aroma yang pas. Bacalah novel Perfume (Patrick Süskind) untuk lebih jelas.

Itu saja? Tentu tidak. Ada dua hal lagi. Yang pertama, karya seni yang tidak dapat dirasakan dengan indera. Kalau istilah orang IT mungkin harus di-compile dulu ke dalam bahasa yang dimengerti otak. Misalnya puisi dan secara umum karya sastra lainnya. Secara fisik, sebuah kertas putih bertuliskan puisi dengan tinta hitam dengan font yang biasa saja dan tanpa dekorasi tentu tidak menarik. Begitu juga jika puisi tersebut dibacakan. Saya pribadi muak juga sebenarnya (secara auditori) kalau mendengar orang membaca puisi. Namun, makna di dalam puisi itu akan terasa setelah kata demi kata dicerna oleh otak.

Yang kedua, karya seni yang memerlukan perpaduan lebih dari satu indera. Contoh yang pertama adalah tarian. Tentu bisa saja menari tanpa musik, namun akan lebih bisa dinikmati jika tarian diiringi musik, bukan? Contoh kedua sebenarnya makanan itu sendiri. Cobalah makan sambil menutup hidung. Tidak akan terlalu mantap, sebab sebagian dari kelezatan makanan itu ada karena kita dapat mencium baunya. Sebagian lagi dilengkapi oleh pucuk-pucuk di lidah yang dapat merasa.

Sekian mengenai indera. Seperti pada bagian I, di sini lebih jauh lagi dijelaskan bahwa seni tidak melulu sebuah karya yang dibuat oleh seorang nyentrik yang gayanya unik. Juru masak pun seorang seniman!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s