Ga ada noda, ga belajar

Yoooo! Di tengah-tengah hektik desain Arkavidia (it’s tough to be an unpaid head of unpaid designers) serta tugas progin dan kripto (BTW tugas sister kok gak kunjung rilis???), mari kita merenung sejenak.

Di kuliah KAP, bu Putri pernah menyebutkan alasan manusia kecewa — manusia kecewa karena punya harapan. Ketika harapan tidak terpenuhi, manusia menjadi kecewa. Kalau tidak ada harapan, tidak ada yang bisa gagal, jadi tidak kecewa.

Dimulai dari “harapan.” Ada dua kata dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan sebagai harapan — hope dan expectation. Keduanya sebenarnya sedikit berbeda. Expect lebih mendekati “menduga” atau “memperkirakan,” meskipun tidak sepenuhnya demikian. Untuk lebih jelas, perhatikan contoh, “I expected it, but I didn’t hope for it,” yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “Saya sudah mengira itu akan terjadi, tapi tidak berharap hal itu benar-benar terjadi.” Jadi rasanya expectation lebih cocok untuk konteks harapan & kekecewaan bu Putri.

Lantas, logika naif tentu berkata, “kalau harapan menyebabkan kekecewaan, supaya tidak kecewa ya tidak usah berharap,” atau “agar tidak terlalu banyak kecewa, tidak usah berharap terlalu tinggi”  — dengan kata lain, jangan punya cita-cita terlalu tinggi. Benarkah demikian?

Biasanya orang meyebutkan dua paradigma — idealis dan realis. Idealis di mata orang biasanya hampir identik dengan orang yang cita-citanya sangat tinggi, hampir tidak mungkin tercapai, sedangkan realis diidentikkan dengan “orang yang tidak berharap” pada contoh saya di paragraf sebelumnya. Itu adalah “titik-titik ekstrim,” dengan kata lain sebenarnya tentu tidak tepat mengidentikkan idealis dengan cita-cita yang terlalu tinggi atau realis dengan tidak punya cita-cita.

Banyak yang mempertanyakan, lebih baik idealis atau realis? Mengambil definisi di atas, pertanyaan ini senada dengan pertanyaan di akhir paragraf keempat. Menurut saya pribadi, tidak baik jika tidak mempunyai harapan. Sama saja tidak punya mimpi, tidak punya cita-cita… Kasarnya, tidak punya hidup. Akan tetapi, idealis (ingat, idealis dan realis di sini mengacu pada definisi di paragraf sebelumnya) juga tidak sepenuhnya baik, mempunyai cita-cita tanpa mempertimbangkan kondisi nyata (tentu Anda sadar bahwa realis memiliki akar kata bahasa Inggris real — nyata?). Tadi kedua paradigma ini saya sebut sebagai titik ekstrim, yang saya maksud adalah ada nilai-nilai lain di antara kedua nilai tersebut (bukan biner). Menurut saya pribadi, yang terbaik adalah memiliki idealisme, namun tetap menyadari realita dan bertindak nyata dengan mencari jembatan antara realita tersebut dengan kondisi ideal. Bukannya mengumbar janji, bukan juga hanya diam berputus asa.

Cita-cita, tentu terkait dengan visi dan misi. Orang Indonesia biasa mengatakan visi sebagai pandangan jauh ke depan, dan misi adalah cara untuk mencapai visi tersebut. Maka jelas bahwa misi datang setelah visi. Namun menurut bahasa Inggris, mission datang sebelum vision. Apa pun itu, poin yang penting adalah bahwa kita tidak boleh mempunyai cita-cita, tanpa memikirkan jalan mencapainya. Cita-cita atau visi sebanding dengan idealisme, jalan pencapaian atau misi sebanding dengan realisme. Siapa bilang keduanya tidak bisa sejalan?

Lantas, mengapa judul post ini “ga ada noda, ga belajar?” Sebenarnya saya ingin mengontraskan kalimat tersebut dengan “ga ada harapan, ga kecewa.” Keduanya memiliki struktur yang sama, namun kalimat pertama menunjukkan betapa untuk mencapai suatu tujuan dibutuhkan pengorbanan, sedangkan kalimat kedua memiliki rasa negatif, mengajak untuk pasif, tidak bertindak. Yang mana yang lebih baik? Bagi saya tentu yang pertama. Jadi bukan hanya punya cita-cita dan memikirkan jalan mencapainya, tapi juga siap berkorban untuk mencapai cita-cita tersebut.

Oke, sekian sesi renungan dari saya. Selamat ternoda (dengan kata lain, Selamat belajar!)!

Iklan

3 thoughts on “Ga ada noda, ga belajar

  1. fachrielantera06

    tulisan kamu baik :D..
    sepakat kita harus memiliki idealis tapi harus realistis …
    dan kita ketika kita bermimpi maka pikirkanlah stepnya…

    tak ada orang yang terkenang namanya tanpa sebuah idealisme dalam dirinya…

    dan sebuah catatan kecil yang mungkin bisa menjadi renungan untuk belajar ..bahwa jangan pernah takut untuk gagal…karena kegagalan akan menjadi pintu keberhasilan kalau kita menjadikan sebuah pelajaran untuk tidak jatuh dalam langkah yang kedua lagi..
    dan jangan pernah takut untuk mengambil resiko..karena segala hal pasti ada resiko.. :D

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s