Lingua

Sesuai judul, post kali ini berhubungan dengan bahasa. Mungkin ada dua hal yang mendorong saya menulis post ini:

  1. Khotbah tadi pagi dibumbui dengan lelucon-lelucon berbahasa Jawa, maklum di Gereja Kristen Jawa. Untungnya saya masih bisa sedikit mengerti dan tertawa mendengar lelucon-lelucon itu.
  2. Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel mengenai alfabet fonetik (pelafalan huruf sebagai kata untuk menghindari kesalahpahaman, misal Alpha untuk A dan Tango untuk T), di mana penulisnya justru mengalami kesalahpahaman ketika menggunakan alfabet fonetik ini. Menurut analisis saya, penyebabnya adalah alfabet fonetik yang digunakan sang penulis merupakan versi internasional sehingga pendengar yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia salah menangkap maksudnya.

Dari kedua poin di atas, topik bahasa saya khususkan lagi menjadi perbedaan bahasa. Perbedaan bahasa pada contoh pertama (Jawa dengan Indonesia) menyebabkan saya hampir-hampir tidak mengerti lelucon Pak Pendeta. Pada contoh kedua (Internasional dengan Indonesia) menyebabkan kesalahpahaman antara kedua komunikan. Lebih jauh, perbedaan bahasa saya khususkan lagi menjadi persoalan penerjemahan. Lagi-lagi saya berikan contoh nyata:

  1. Pada semester lalu (semester 5) saya mengambil mata kuliah KU2062 – Agama dan Etika Protestan. Pada waktu itu Pak Dosen meminta bantuan beberapa mahasiswa untuk menerjemahkan sebuah buku dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Masing-masing bab pada buku tersebut diterjemahkan oleh satu mahasiswa. Setelah dikumpulkan, beliau menanggapi hasil pekerjaan saya sebagai yang paling enak dibaca dan mudah dimengerti.
  2. Metro TV. Mungkin pembaca juga sudah menyadari, penerjemahan bahasa asing ke bahasa Indonesia di Metro TV sangat kacau, baik tekstual (dalam bentuk subtitle) maupun lisan (narasi oleh narator). Banyak sekali contohnya, yang paling saya ingat adalah sebuah papan penunjuk arah “The Exhibition of Two Mosque Architectures” yang diterjemahkan oleh Metro TV sebagai “Pameran Dua Masjid dan Arsitektur.” Kacau sekali bukan? Saya harap ada pihak Metro TV yang membaca post ini kemudian segera mempertimbangkan untuk mengganti penerjemahnya. Saya juga mau kok jadi penerjemah asal upahnya sepadan :D.

Dari contoh di atas dan berbagai contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, ada dua poin yang saya tarik dalam proses penerjemahan, dengan asumsi penerjemah menguasai (fluent) bahasa asli teks yang akan diterjemahkan. Agar konsisten dengan contoh, saya umpamakan penerjemahan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, meskipun aplikasinya berlaku untuk semua bahasa. Dengan demikian, asumsi sebelumnya dapat kita anggap sebagai “penerjemah menguasai (fluent) bahasa Inggris.”

  1. Penerjemah HARUS menguasai bahasa tujuan, dalam contoh kasus berarti bahasa Indonesia. Kasus yang sering terjadi adalah meskipun penerjemah menguasai bahasa Inggris dan penerjemah adalah orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil, rupanya penerjemah ini belum benar-benar memahami bahasa Indonesia. Jadi meskipun penerjemah mengerti maksud teks dalam bahasa Inggris, presentasinya dalam bahasa Indonesia tidak terstruktur sebagaimana bahasa Indonesia seharusnya dan implikasinya adalah teks terjemahan sulit dimengerti. Jadi sekali lagi saya tekankan, penerjemah HARUS menguasai bahasa tujuan.
  2. Penerjemah HARUS mengerti konteks sumber yang akan dierjemahkan. Tidak jarang juga terjadi, ketika sang penerjemah menguasai bahasa Inggris maupun Indonesia, rupanya ia tidak memiliki latar belakang yang sesuai dengan konteks sumber yang akan diterjemahkan. Misalnya saja, teks yang akan diterjemahkan adalah sebuah teks mengenai mutasi gen (biologi), namun diterjemahkan oleh mahasiswa Teknik Informatika. Contoh nyatanya, untuk memudahkan saya tukar menjadi penerjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Dalam konteks biologi, “jaringan” biasanya diterjemahkan menjadi “tissue” sedangkan dalam konteks informatika, “jaringan” adalah “network.” Yang demikian, jika saya tidak salah, disebut dengan ontologi.

Jadi, untuk Anda yang sedang mencari penerjemah atau yang ingin menjadi penerjemah, pastikan dulu Anda memahami kedua poin di atas. Pahamkah Anda akan bahasa Indonesia sendiri? Yakinkah Anda bahwa Anda mengerti konteks sumber yang akan dierjemahkan? Tentunya jangan lupakan juga asumsi yang saya gunakan, pastikan Anda menguasai bahasa asli teks yang akan diterjemahkan!

Iklan

2 thoughts on “Lingua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s