Introduction to LyX and WYSIWYM paradigm

Kali ini saya akan me-review sebuah perangkat lunak bebas (free software) semacam word processor yang membawa paradigma baru dalam membuat dokumen. Saya sendiri telah mencoba perangkat lunak ini sejak tahun 2007, namun baru akhir-akhir ini mulai membiasakan diri untuk kembali menggunakan perangkat lunak ini untuk keperluan sehari-hari.

Secara teknis, LyX yang dibangun berdasarkan LaTeX kurang tepat jika dikategorikan sebagai word processor. Perancang LaTeX, Leslie Lamport (1985) menyebut LaTeX sebagai document preparation system. LaTeX merupakan front-end untuk bahasa scripting khusus untuk typesetting, TeX, yang dibuat oleh Donald Knuth (1984). Format pdf (portable document format) dan dvi (device independent format) bermula dari TeX.

Perbedaan yang dibawa LaTeX maupun LyX adalah paradigma dalam menyusun dokumen, dari WYSIWYG (What You See Is What You Get) yang dibawa oleh word processor pada umumnya, menjadi WYSIWYM (What You See Is What You Mean), yang berarti bahwa penyusunan dokumen tidak berdasarkan pada penampilan dari bagian-bagian khusus dokumen tersebut, melainkan berdasarkan struktur dokumen (catatan: karena hanya berbeda satu karakter antara WYSIWYG dengan WYSIWYM, selanjutnya saya akan menuliskan keduanya sebagai WYSIWYGet dan WYSIWYMean agar mudah dibedakan). Misalnya, pada word processor biasa, ketika mengetik suatu artikel, saya mengatur jenis dan ukuran font untuk judul artikel secara manual, kemudian mengatur indentasi paragraf, dan kembali mengatur jenis dan ukuran font secara manual untuk setiap judul bab, dan seterusnya. Pada LyX, saya cukup menandai bagian-bagian dokumen tersebut, “yang ini judul. Yang itu paragraf. Yang ini nama penulis,” dan LyX akan secara otomatis mengatur jenis, ukuran, dan style dari font yang akan digunakan, indentasi, dan sebagainya. Kira-kira mirip dengan pengaturan style pada word processor modern (versi-versi baru Microsoft Word ataupun OpenOffice.org Writer), yang sudah mulai beralih ke paradigma WYSIWYMean. Bedanya, word processor masih memungkinkan pengguna untuk melakukan pengaturan typeface secara manual (WYSIWYGet), sedangkan LyX adalah WYSIWYMean murni. Pada LyX, bahkan menekan tombol [Enter] atau [Space] dua kali tidak akan memberikan dua new line feed atau pun dua spasi. Konsep WYSIWYM pada word processor belum matang, tidak seperti pada LyX atau LaTeX yang sudah ada sejak 24 tahun yang lalu.

Mengapa pada awal era word processor digunakan paradigma WYSIWYGet? Word processor pada waktu itu dimaksudkan untuk menggantikan mesin tik – yang tentu saja berparadigma WYSIWYGet. Dengan mesin tik, saya harus secara manual mengatur indentasi tulisan, jarak vertikal antara baris judul dengan paragraf isi, jarak vertikal antara paragraf dengan paragraf lainnya, menghitung jumlah spasi yang saya butuhkan untuk meletakkan suatu baris tulisan sebagai center-aligned. Karena itu, agar pengguna dapat menggunakan word processor secara intuitif (sehingga penjualan word processor laris), paradigma itu juga yang digunakan dalam word processor. Berbeda dengan LaTeX, yang memanfaatkan sepenuhnya kecerdasan, kecepatan, dan kekayaan resource komputer. Paradigma WYSIWYMean lebih memudahkan manusia dibandingkan dengan WYSIWYGet, namun manusia yang pemalas cenderung lebih suka menggunakan paradigma lama daripada sedikit belajar untuk membiasakan diri dengan paradigma baru yang sebenarnya akan lebih menguntungkan untuk jangka panjang.

Dengan membaca artikel saya ini, mungkin Anda belum menemukan perbedaan yang sangat jauh antara LyX dengan word processor. Itu karena artikel ini baru merupakan perkenalan LyX dan WYSIWYMean. Di artikel saya selanjutnya, saya akan membahas lebih spesifik perbedaan LyX dengan word processor, dan Anda akan melihat betapa jauhnya perbedaan yang ada.

Catatan akhir, melihat kondisi pasar dan sifat manusia sekarang ini, saya tidak yakin bahwa dalam penyusunan dokumen, paradigma WYSIWYMean akan menggantikan WYSIWYGet. Meskipun seperti yang saya katakan bahwa word processor modern sudah mulai memfasilitasi WYSIWYMean, namun karena WYSIWYGet masih didukung oleh word processor dan manusia adalah pemalas, maka secara umum WYSIWYGet tidak akan ditinggalkan. Selain itu, WYSIWYMean di word processor sangat tidak sempurna, dan kalaupun produsen word processor populer menghapus WYSIWYGet dari word processor-nya dan menggantinya dengan WYSIWYMean murni, konsumen pasti akan kebingungan dan mengajukan protes sehingga demi keuntungan (baca: demi larisnya produk mereka), produsen akan kembali ke paradigma semula.

Iklan

4 thoughts on “Introduction to LyX and WYSIWYM paradigm

  1. rsatrioadi Penulis Tulisan

    setelah membaca kehidupan sang profesor yang sangat menginspirasi saya, Andrew S. Tanenbaum, dia bilang dia pake troff, ga pake LaTeX. bukannya ga suka LaTeX, dia bilang “real authors use troff.” oleh karena itu, besok saya akan mengeksplor troff!! tapi saya janji akan posting tentang LaTeX dulu…

    Balas
  2. Ping balik: LyX, sepeda, dan Eeiiisssss « blackfox’s temporary burrow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s