alIFbata, part II

Sori baru lanjut lagi, seminggu ini saya sibuk menjelajahi pegunungan sampai tiga kali, baru sempat blogging lagi nih.

2009.01.10, 19.00 – di tenda, kami menunggu datangnya kayu bakar dan ayam yang akan kami bakar untuk makan malam. Udara semakin dingin, namun begitu api unggun menyala, rasa hangat panas menyerang sekujur tubuh kami. Tak lama kemudian, sampailah ke bagian paling menarik dari seluruh acara ini: membakar ayam!! Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok beranggotakan 3-4 orang dan setiap kelompok membakar seekor ayam untuk dimakan oleh anggota kelompok tersebut. Nah, karena kebanyakan dari kami (kalau bukan semua) belum pernah bakar-bakar ayam langsung dari api unggun, banyak kejadian aneh deh… Contohnya, yang pertama adalah kelompok saya yang beranggotakan saya, Andru, dan Kaisar. Sang mayat ayam yang kami bakar di api nampak bagus dari luar, benar-benar tampak well done. Tapi karena dibakarnya langsung di atas api, ternyata meskipun bagian paling luar dari daging ayam (sebut saja layer 1) matang dan enak rasanya, layer-layer berikutnya masih merah berdarah-darah. Kami pun memutuskan untuk memotong-motong ayam tersebut menjadi beberapa bagian, kemudian dibakar lagi satu per satu. Saya membakar bagian saya, yang kalau tidak salah adalah paha kanan. Setelah cukup lama membakar saya pun menjadi bosan dan keburu lapar, maka saya memakannya setengah matang XD… Bukan sesuatu yang baik untuk dikenang. Sementara itu Kaisar dan Andru masih bereksperimen dengan sisa ayamnya, bahkan sampai membungkus ayam dalam daun pisang dan diletakkan langsung di atas bara api. Sayang, belum sempat dicoba, ketika hendak diangkat dari bara, ayam tersebut terjatuh dan jadilah korban bakaran sampai habis XD… Padahal mungkin rasanya enak. Contoh kedua, yang paling remarkable adalah ayam kelompok Tito. Karena mereka melihat “karya” kami yang kurang matang, mereka pun mencabik-cabik ayam mereka sehingga bentuknya menjadi tak karuan, saya pribadi menyebutnya sebagai “benda yang ditemukan telah terlindas mobil, entah apa itu, kemudian dibakar dan ketika dimakan ternyata rasanya seperti ayam.” Selain dari kalimat itu saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi… Contoh ketiga, kelompoknya Fahmi. Tidak jauh berbeda, ayamnya kurang matang. Oleh karena itu mereka menggunakan algoritma Ostrich dan menambahkan kecap sebanyak-banyaknya untuk menutupi rasa ayam yang belum matang itu. Ketika mereka menyalakan senter agar lebih mudah dalam menyantap ayam tersebut, apa yang mereka lihat singkat kata menyebabkan Fahmi berkata, “Gimana kalo kita matiin aja senternya?” Yang penting udah ada rasa kecapnya XD… Kelompok para ladies dan kelompok Obbie yang terakhir membakar ayam, belajar dari kesalahan kelompok-kelompok lain dan sukses menciptakan ayam bakar yang matang. Setelah itu, makan malam ditutup dengan bakar-bakar marshmallow yang nikmatnya tiada dua – marshmallow hasil “belanja informatika.” Hehehe…

2009.01.10, setelah insiden ayam bakar – beberapa masih duduk-duduk di sekitar api unggun, beberapa mulai berbaring di tenda. Saya sendiri di tenda bersama Obbie, menikmati kacang kulit dan sekaleng bir. Setelah itu, ketika malam semakin kelam, mulailah sekelompok orang dari kami, sebut saja kelompok .GIF, iseng membuat video-video skandal dengan memanfaatkan siluet. Para aktor (dengan inisial P, A, F, dan S) beraksi di dalam tenda dengan sutradara sekaligus lighting oleh K, direkam dari luar tenda oleh A dan A. Tidak lupa diiringi lagu Unchained Melody.

2009.01.11, tengah malam – sebelum tidur, tenda saya yang berisi enam orang dihiasi dengan cerita-cerita horor oleh saya dan Obbie. Anehnya, Agus tenang-tenang saja. Setelah itu, kami tidur (meskipun akibat pola tidur yang berubah-ubah selama libur saya jadi tidak bisa tidur). Dini hari, badai angin bertiup ganas, mengangkat tenda kami meskipun sudah berisi enam orang. Tenda yang tadinya cukup penuh dengan enam orang, mendadak menyisakan tempat untuk setidaknya tiga orang lagi karena kami berenam merapat saking dinginnya udara. Tak terbayang sedingin apa di luar tenda. Di tengah dinginnya malam itu, saya mendengar suara dari arah tenda wanita, suara plastik kresek dan bungkus makanan dibuka, dan suara seseorang menyantap makanan ringan. Saya pikir, “pasti itu Nadhira.”

2009.01.11, pagi hari – kami para pria IF06 berkumpul di tenda pria IF06 yang satu lagi, kemudian menyantap makanan ringan yang tersisa. Kami juga membicarakan mengenai badai dan dinginnya udara semalam. Wew… Saya juga bercerita mengenai suara makanan ringan yang saya dengar di dini hari, namun ternyata menurut pengakuan para wanita tidak ada yang bangun di malam/dini hari untuk makan. Nah lho… Setelah tenaga kami pulih kembali, kami pun membereskan tenda dan turun gunung… Kembali ke peradaban.

Karena saya lelah mengetik, segini saja ya…

Iklan

9 thoughts on “alIFbata, part II

  1. kzcl

    videonya uplot kk!!!
    haha…
    masih sempet nih sat buat didaftarin oscar…
    Kita sabet smua dari best movie ampe best original soundtrack… :p

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s