Pelajaran Tentang Sampah (A Dedicated Post)

Bukan, ini bukan tentang sebuah mata kuliah yang saya anggap sampah, mata kuliah pertama (dan mudah-mudahan juga yang terakhir) saya di ITB yang mendapat nilai E alias tidak lulus. Tidak etis kalau menyebut nama mata kuliahnya, saya samarkan saja dengan kode EL1001 atau dengan inisial PRE.

Pelajaran tentang sampah ini sudah pernah saya bagikan melalui mailing list informatika ITB angkatan 2006 tidak lama setelah Mukrab 2007 dengan patung Oscar yang kami banggakan itu. Selain itu juga pernah saya kirimkan via e-mail ke beberapa teman dekat saya. Tapi saat ini saya merasa lebih banyak rekan-rekan yang membutuhkan pelajaran ini, jadi saya post di blog ini. Apalagi hit blog saya ini jadi mengingkat thanks to blog aggregator IF06. Special thanks to Inas yang merealisasikan aggregator ini dan Naila yang mencetuskan ide (biar seneng si Naila).

Sampah. Apa sih yang terpikir jika mendengar kata ‘sampah’? Sebagian besar dari kita akan mendefinisikan sampah sebagai benda tak berguna, tidak dipakai lagi, tidak diperlukan orang. Sampah, sebaiknya dibuang saja. Dibakar saja, daripada membusuk. Dengan definisi yang demikian, tentu orang akan sakit hati jika dihina, “sampah kamu!” Begitu juga, seseorang yang gagal tidak jarang menganggap dirinya sebagai sampah. Namun, sebenarnya kita tidak perlu sakit hati jika disebut sampah. Bahkan tidak masalah jika kita menganggap diri kita sampah, asalkan kita menyikapinya dengan benar. Bagaimana caranya?

Di atas sudah disebutkan definisi sampah menurut sebagian besar orang. Namun tidak semua orang menganggap sampah demikian. Sebutlah pemulung, yang menganggap sampah sebagai sumber kehidupannya. Sampah bukan benda yang tidak berguna untuknya. Sebaliknya, ia justru mencari sampah agar dapat dijual untuk menghidupinya. Sampah menjadi berharga! Selain itu, masih ada para pendaur ulang. Sampah, yang seringkali kita anggap tak berharga, tak berguna, dapat diubahnya menjadi benda yang dapat digunakan lagi, atau bahkan karya seni yang sedap dipandang mata. Sampah kembali menjadi berharga jika berada di tangan mereka.

Begitu juga dengan kita. Jika orang lain atau diri kita sendiri menganggap kita sampah, masih ada cara agar kita kembali menjadi berharga. Tempatkanlah diri kita di tangan para pendaur ulang, yang dapat mengubah kita kembali menjadi sesuatu yang berguna. Siapakah para pendaur ulang itu? Tentunya adalah teman-teman kita. Teman yang sejati, yang ada untuk kita meskipun di saat susah. Teman yang bisa membantu kita membangun kembali diri kita di saat kita terpuruk. Bukan teman yang menjatuhkan! Bukan teman yang justru ikut mengejek kita.

Karena itu, jika Anda merasa gagal, jika orang-orang menilai Anda tak berguna, jangan ragu untuk curhat dengan teman, karena teman yang baik pasti akan membantu Anda bangkit.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat terbaik saya, Phina. This post is dedicated to you.

Iklan

4 thoughts on “Pelajaran Tentang Sampah (A Dedicated Post)

  1. Josephine

    Wadudu, nama gw disebut-sebut,, hahaha.
    Tapi kemaren gw jam 11 udah ngebo, gagal menepati janji nemenin, maap ya T.T
    Yang penting lo udah baik-baik aja soalnya kaget gw tiba-tiba lo sms aneh (walopun hampir semua sms lo emang aneh :p)
    Lo harus tetap semangat ya, tetap beler kayak biasa,okay? :)

    Balas
  2. Ping balik: masalah oh masalah « lunatic tsukiya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s