Keteguhan hati sang orang gila

Berjumpa kembali dalam blog yang kadang-kadang gak penting ini. Tulisan saya kali ini mungkin akan dianggap gak penting oleh beberapa orang, tapi judulnya menarik, bukan?

Kejadian ini terjadi bulan Juli yang lalu, ketika akhirnya saya harus meninggalkan kasur saya yang nyaman di kota Depok menuju kasur saya yang nyaman di kota Bandung. Saya berangkat dari Depok menuju Bandung dengan “menumpang” (dengan membayar, tentunya) pada sebuah agen travel Depok-Bandung melalui jalan tol yang dengan senang hati rela dilindas jutaan ban mobil demi mempercepat waktu tempuh Jakarta-Bandung. Seperti biasa, saya tidak tidur di perjalanan karena sibuk mengamati perubahan apa saja yang terjadi di sekitar jalan tol sejak terakhir kali saya lewati.

Nah, ketika kira-kira sudah 3/4 perjalanan, sang supir dan para penumpang yang tidak tertidur dikejutkan oleh seorang yang (mungkin) kurang waras. Sang orang gila (kenapa saya menggunakan “sang” untuk seorang gila?) berusia sekitar 50 tahunan itu berdiri tegak di tengah jalan tol, menghadap arah datangnya mobil, dengan bertelanjang dada dan tangan kanannya menggenggam kemeja yang tadinya ia kenakan. Tentu saja para pengemudi kendaraan yang melintas selalu mengerem mendadak dan berpindah lajur menghindari sang orang gila tersebut, termasuk sang supir travel yang saya “tumpangi”.

Saya pun merasa kaget ketika mengalami kejadian itu, namun ada satu hal yang menarik perhatian saya dan mengundang kekaguman saya pada peristiwa tersebut. Saya ingat betul tatapan mata sang orang gila. Bagaikan elang (beuh, kata-katanya…), matanya menatap tajam, lurus kepada setiap mobil yang melaju ke arahnya. Melalui bola matanya saya dapat melihat suatu keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat dalam dirinya. Muncul-lah jiwa analitis dalam diri saya, membuat list mengenai apa yang begitu diyakini oleh sang orang gila:

  1. Ia yakin bahwa ia ingin mati
  2. Ia yakin bahwa ditabrak mobil pun ia tidak akan mati
  3. Ia yakin bahwa ia tidak akan ditabrak mobil

Namun saya tidak yakin dengan yang ketiga, jadi poin 1 dan 2 menurut saya lebih mungkin.

Anyway, yang menjadi penekanan saya di sini ialah betapa sang orang gila tersebut memiliki keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat, yang dalam judul tulisan ini saya ungkapkan sebagai keteguhan hati. Nah, bagaimana dengan Anda yang merasa diri Anda waras, yang tentunya tidak mau disamakan dengan sang orang gila? Apakah Anda mempunyai keyakinan dan kepercayaan diri sekuat sang orang gila? Apakah Anda memiliki keteguhan hati yang mantap untuk membela apa yang Anda anggap benar? Ataukah Anda justru takut dan menyerah jika menghadapi tekanan?

VISIT INDONESIA YEAR 2008!!!

Iklan

One thought on “Keteguhan hati sang orang gila

  1. Ping balik: blackfox’s burrow » Blog Archive » Walikotaku kurang kerjaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s