Over-discussed

Yes, this is about that dress. I really think it’s over-discussed, but since some people still don’t understand how it works, I’ll try to explain as simple as I can. As can be expected, XKCD’s illustration is very simple and easy to use for demonstration:

xkcd.com/1492

Colorpicking on one of the dress’ colors and then brushing a bridge between them shows that they’re exactly of the same color:

Bridged.

Bridged.

It works almost exactly the same way as this popular optical illusion (explanation here for the curious):

Checkershadow illusion: Squares A and B are of the exact same color. We assume that B is lighter because it is surrounded by even darker squares.

The difference is that in the dress picture there’s not enough background color for reference, so our brains make assumptions of the dress’ surroundings. Those whose brains assume dark background/ambiance will see white/gold, while those whose brains assume bright background/yellow radiance will see blue/black. These assumptions are made subconsciously. It explains the hardcore extremists: you believe that what your brain assumes is true; and it explains how one can see it differently from time to time: your assumptions can be influenced by things such as the real environment that you’re currently in, or even your mood.

As an (self-proclaimed) artist who’s used to working with colors, I’m (self-)trained not to make this kind of assumptions. When I was asked what color the dress is, I answered with what my eyes objectively see: the face value of greyish blue and brown, as the HSB values below prove. The colors in the picture (not of the actual, real-life dress) are neither blue/black nor white/gold. They are greyish blue/brown.

Low saturation, high brightness blue.

Low saturation, high brightness blue.

Brown.

Brown.

Well I hope that makes it clear and no friendships or relationships are hurt because of it.

Still confused?

Still confused?

Es krim goreng adalah inkarnasi surga

Dalam berbagai kepercayaan disebutkan bahwa hal-hal duniawi berkebalikan dengan hal-hal suci atau surgawi. Dalam berbagai bahasa, kata dunia ekuivalen dengan Bumi, atau lebih umum lagi, planet. Dalam fiksi ilmiah berbahasa Inggris, misalnya, sebuah planet asal suatu spesies cerdas sering disebut dengan istilah homeworld. Bumi adalah homeworld bagi Homo sapiens.

Menimbang definisi kata dunia dan turunannya, duniawi, serta membandingkannya dengan es krim goreng, saya pun dengan ngasalnya mengatakan bahwa es krim goreng adalah inkarnasi surga. (Kata yang terpikir oleh saya dalam bahasa Inggris adalah epitome atau embodiment, tapi saya tidak tahu kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.)

Baca lebih lanjut

Are you (touchscreen) experienced

Saya pernah bilang: gak ada yg mengalahkan touchscreen experience di Windows Phone. Setidaknya menurut pengalaman saya, touchscreen Windows Phone adalah yang paling nyaman digunakan di antara mobile device yang pernah saya gunakan.

Sebagai pembuka tentunya perlu diklarifikasi dulu lingkungan mobile apa saja yang pernah saya gunakan: Windows Phone, iOS, sedangkan untuk Android palingan saya pernah pake hasil pinjam karena saya gak punya. Kalo Bl… Blek… Black… yah yang satu itu lah pokoknya, saya belum pernah pakai dan gak berniat untuk pakai juga. Oh iya, untuk Windows Phone saya cuma pernah pakai merk Nokia, belum pernah berjumpa langsung dengan device Windows Phone merk lain. Jadi mungkin saja superiority yang saya rasakan adalah sebagian karena Nokia, bukan karena Windows Phone saja. Saya juga bukan pengguna tablet, jadi bahasan ini terbatas pada device berukuran layar di bawah 6 inci.

Jadi aspek apa saja yang membuat saya berkesimpulan touchscreen di Windows Phone paling hebat? Baca lebih lanjut

[How-To] Nyomot emot dari Skype

Post sebelumnya di blog ini berjudul Faith, part I dan dulu waktu nulis post itu memang direncanakan ada part II, tapi sekarang saya sendiri sudah lupa part II mau cerita apa. Oleh karena itu mari kita lupakan saja.

Untuk post kali ini, ceritanya di suatu negeri social media non-mainstream, terdapat fitur untuk menambah emoticon sendiri. Custom emoticons, kata orang sana. Trus di lingkaran pertemanan saya di social media tersebut, ada yang doyan pakai emoticon dari suatu aplikasi IM/VoIP buatan hasil akuisisi Microsoft. Nah pengennya sih ngambil file GIF bawaannya aplikasi itu, tapi ternyata susah. Di C:\Program Files\ gak ketemu. Akhirnya seorang ksatria satrio pun turun tangan dan melakukan screen capture untuk mendapatkan emoticon tersebut. Bagaimana caranya? Baca lebih lanjut

Faith, part I

Faith in humanity, restored. (Kata ABG online masa kini.)

Kemarin waktu pulang kantor di jalan banyak sekali pengendara yang tidak beradab. Perasaan lebih banyak dari yang pernah dijumpai selama di Bandung dan jadi berpikir, kayaknya semakin lama semakin banyak pengendara yang tidak beradab. Tapi hari ini ketika berangkat ke kantor ada kejadian yang mengejutkan (in a good way).

Jadi kalau berangkat ke kantor saya keluar dari rumah kost belok ke kanan. Nah tadi tumben-tumbennya di sebelah kanan ada mobil parkir, nggak tanggung-tanggung mobilnya Pajero yang sebesar… sebesar Pajero. Jadi menghalangi pandangan saya terhadap incoming traffic dari sebelah kanan.

Dalam kondisi normal (tidak terhalang Pajero) saja dari arah kanan seringnya pengendara tidak mau mengalah, dan saya harus agak ngotot atau pasrah menunggu jalan agak sepi supaya bisa memotong jalan untuk ke jalur kiri. Apalagi kondisi terhalang Pajero, saya tidak bisa melihat apakah ada traffic dari arah kanan.

Nah yang mengejutkan adalah, ada seorang pengendara Vespa, kelihatannya mahasiswa, yang berhenti dan kemudian memberi gesture untuk pengendara-pengendara lain di belakangnya untuk berhenti dan memberi saya jalan untuk lewat. Sekarang hal seperti itu sudah jarang sekali ditemukan di jalanan di Indonesia ini.

Thanks, anak muda, you made my day.

(Berasa tua banget nyebut ‘anak muda’.)

Tombol dan otak

Perhatikan gambar berikut:

Shift key

Gambar di atas adalah sebuah foto dari tombol Shift di keyboard komputer. Sekarang perhatikan gambar berikut:

Close buttonKalau gambar sebelumnya merupakan foto dari sebuah objek nyata (fisik) yaitu keyboard, gambar di atas merupakan “tombol bohongan” di layar komputer. Meskipun bukan benda nyata, tapi kita tetap bisa menangkap bahwa gambar itu adalah gambar tombol. Ada gradien dan bayangan unyu-unyu yang seolah-olah berkata kepada kita, “Saya tombol, saya bisa diklik lho!” Tapi grafik di komputer zaman dahulu tidak sekaya itu, tidak mudah membuat gradien dan bayangan ketika layar komputer cuma bisa menampilkan 8 warna. Tapi coba perhatikan gambar berikut:

OK buttonGambar itu masih berteriak, “Saya bisa diklik lho,” meskipun kalau kita perhatikan baik-baik, zoom sampai sepuluh kali lipat, kita dapat melihat bahwa gambar di atas hanya terdiri atas tiga warna: hitam, putih, dan satu shade abu-abu. Kalau boleh dibilang (jelas boleh, kan gambar itu buatan saya sendiri), gambar itu sebenarnya cuma dua garis hitam, dua garis putih, dan (garis-garis hitam yang membentuk) tulisan “OK”. Dan bahkan garis-garis tersebut tebalnya hanya satu pixel! Tapi mengapa kita bisa mengerti kalau gambar itu merepresentasikan sebuah tombol?

Itulah hebatnya otak manusia. Kita bisa melakukan penyederhanaan dari benda nyata menjadi suatu model yang tetap kita mengerti maksudnya. Contoh lainnya adalah gambar stick figure yang meskipun cuma lima garis dan satu lingkaran tetap bisa kita anggap sebagai manusia. Otak manusia bisa mengisi detail yang hilang dari gambar tersebut dari ingatan dan imajinasi.

Nah, coba pikirkan, kalau empat garis saja bisa kita anggap tombol, rasanya tidak mengherankan kalau siluet ranting pohon bisa kita kira hantu, bayangan gelap di sebuah foto langit kita kira UFO, bercak air di tembok terlihat seperti wajah tokoh agama tertentu, dan pola bulu kucing terlihat seperti tulisan tertentu dalam huruf Arab.