Kelainan

Saya memiliki 33 gigi, di mana manusia pada umumnya hanya punya 32. Itu adalah sebuah bentuk kelainan. (Dentist’s words, not mine.) Kenapa disebut kelainan? Ya karena lain. Orang lain nggak gitu. Lalu apakah itu normal? Kita perlu setuju dulu apa makna normal. Secara individu saya tidak normal, karena individu normal hanya punya 32 gigi. Tapi secara populasi, ada sekian persen yang punya kelainan itu masih normal. Silakan cek apa itu distribusi normal. Mutasi gen itu tidak bisa dihindari, itulah penyebab adanya diversity. Jadi sebuah populasi tanpa ada individu yang berkelainan justru tidak normal. Sejauh yang saya tahu, di antara saya dan semua teman saya, hanya dua yang punya 33 gigi: saya dan Ivan Nugraha. Sebuah populasi yang cukup normal dengan hanya dua mutan. (I wonder if Prof. Xavier will accept us.)

Update: ternyata Unggul Satrio Respationo juga punya gigi ekstra, tapi pada state sekarang 4 gigi bungsunya belum tumbuh, jadi total saat ini 29 gigi.

Apakah kelainan itu salah? Kasihan juga saya dan Ivan, yang tidak tahu dari mana kelebihan gigi itu berasal, kalau dicap salah hanya karena jumlah gigi tidak sama dengan mayoritas. Apakah kelainan itu sakit? Yang jelas kelainan itu bukan penyakit, meskipun bisa jadi ada penyakit yang timbul, langsung maupun tidak langsung, akibat kelainan itu. Misalnya sering sariawan karena lidah tergerus gigi yang tidak pada tempatnya.

Berarti kelainan itu mengganggu? Yang namanya kelainan, tentunya lain. Lain padang lain belalang, lain saya lain pula Ivan. Dokter gigi saya berkata, jika mengganggu sebaiknya kelebihan gigi itu dicabut. Tapi saya sudah lebih dari 27 tahun hidup dan gigi ke-33 tersebut tidak pernah mengganggu, jadi saya biarkan saja. Namun Ivan, gigi ekstranya sudah dicabut sejak SD karena mengganggu. Bayangkan menggigit plastik batagor, lubangnya jadi kelebihan satu akibat ada gigi di langit-langit mulut. Debit keluarnya bumbu kacang jadi tidak ideal. Mungkin sebagian orang menganggap itu mengganggu.

Jika sebagian kelainan itu mengganggu, siapa yang terganggu? Mungkin orang tua, karena harus keluar uang untuk cabut gigi anaknya. Mungkin pasangan, siapa tahu kalau kelebihan gigi french kiss jadi kurang enak. Tapi pastinya yang setiap hari menggunakan mulut, rahang, dan gigi adalah sang pemilik kelainan itu sendiri. Dalam kasus saya sih sejauh ini tidak ada pihak yang merasa terganggu. Tapi kalau sampai ada yang terganggu, yang paling banyak terganggu pasti pemilik kelainan itu sendiri.

Lalu apakah kelainan itu dapat disembuhkan? Gigi bisa saja dicabut. Tapi dalam DNA yang berada di tubuh kami tetap tercatat 33 gigi. Dari luar tidak kelihatan, tapi struktur tulang rahang mungkin tetap berbeda karena ada ruang untuk satu gigi tambahan.

Terus kalau saya kelainan, saya harus apa? Karena tidak ada yang terganggu, ya tidak harus apa-apa. Kalau ada yang terganggu, silakan cari win-win solution untuk pihak yang terganggu. Yang jelas saya tidak perlu menyuruh produsen sikat gigi atau sendok garpu untuk membuat product line yang memadai untuk manusia bergigi 33, meskipun kalau ada yang memproduksi demikian ya saya senang-senang saja. Paling produknya nggak laku.

Terus kalau saya kelainan, kalian harus apa? Selama kalian tidak merasa terganggu ya tidak harus apa-apa. Kalau terganggu, mari kita diskusi mencari win-win solution. Yang jelas kalian tidak perlu repot-repot memaksa saya cabut gigi kalau saya sendiri tidak merasa terganggu, dan kalian juga bukan pasangan saya yang mau mengajak french kiss.

Terus intinya apa? Nggak ada sih, cuma mau cerita aja.

Over-discussed

Yes, this is about that dress. I really think it’s over-discussed, but since some people still don’t understand how it works, I’ll try to explain as simple as I can. As can be expected, XKCD’s illustration is very simple and easy to use for demonstration:

xkcd.com/1492

Colorpicking on one of the dress’ colors and then brushing a bridge between them shows that they’re exactly of the same color:

Bridged.

Bridged.

It works almost exactly the same way as this popular optical illusion (explanation here for the curious):

Checkershadow illusion: Squares A and B are of the exact same color. We assume that B is lighter because it is surrounded by even darker squares.

The difference is that in the dress picture there’s not enough background color for reference, so our brains make assumptions of the dress’ surroundings. Those whose brains assume dark background/ambiance will see white/gold, while those whose brains assume bright background/yellow radiance will see blue/black. These assumptions are made subconsciously. It explains the hardcore extremists: you believe that what your brain assumes is true; and it explains how one can see it differently from time to time: your assumptions can be influenced by things such as the real environment that you’re currently in, or even your mood.

As an (self-proclaimed) artist who’s used to working with colors, I’m (self-)trained not to make this kind of assumptions. When I was asked what color the dress is, I answered with what my eyes objectively see: the face value of greyish blue and brown, as the HSB values below prove. The colors in the picture (not of the actual, real-life dress) are neither blue/black nor white/gold. They are greyish blue/brown.

Low saturation, high brightness blue.

Low saturation, high brightness blue.

Brown.

Brown.

Well I hope that makes it clear and no friendships or relationships are hurt because of it.

Still confused?

Still confused?

Es krim goreng adalah inkarnasi surga

Dalam berbagai kepercayaan disebutkan bahwa hal-hal duniawi berkebalikan dengan hal-hal suci atau surgawi. Dalam berbagai bahasa, kata dunia ekuivalen dengan Bumi, atau lebih umum lagi, planet. Dalam fiksi ilmiah berbahasa Inggris, misalnya, sebuah planet asal suatu spesies cerdas sering disebut dengan istilah homeworld. Bumi adalah homeworld bagi Homo sapiens.

Menimbang definisi kata dunia dan turunannya, duniawi, serta membandingkannya dengan es krim goreng, saya pun dengan ngasalnya mengatakan bahwa es krim goreng adalah inkarnasi surga. (Kata yang terpikir oleh saya dalam bahasa Inggris adalah epitome atau embodiment, tapi saya tidak tahu kata yang tepat dalam bahasa Indonesia.)

Baca lebih lanjut

Are you (touchscreen) experienced

Saya pernah bilang: gak ada yg mengalahkan touchscreen experience di Windows Phone. Setidaknya menurut pengalaman saya, touchscreen Windows Phone adalah yang paling nyaman digunakan di antara mobile device yang pernah saya gunakan.

Sebagai pembuka tentunya perlu diklarifikasi dulu lingkungan mobile apa saja yang pernah saya gunakan: Windows Phone, iOS, sedangkan untuk Android palingan saya pernah pake hasil pinjam karena saya gak punya. Kalo Bl… Blek… Black… yah yang satu itu lah pokoknya, saya belum pernah pakai dan gak berniat untuk pakai juga. Oh iya, untuk Windows Phone saya cuma pernah pakai merk Nokia, belum pernah berjumpa langsung dengan device Windows Phone merk lain. Jadi mungkin saja superiority yang saya rasakan adalah sebagian karena Nokia, bukan karena Windows Phone saja. Saya juga bukan pengguna tablet, jadi bahasan ini terbatas pada device berukuran layar di bawah 6 inci.

Jadi aspek apa saja yang membuat saya berkesimpulan touchscreen di Windows Phone paling hebat? Baca lebih lanjut

[How-To] Nyomot emot dari Skype

Post sebelumnya di blog ini berjudul Faith, part I dan dulu waktu nulis post itu memang direncanakan ada part II, tapi sekarang saya sendiri sudah lupa part II mau cerita apa. Oleh karena itu mari kita lupakan saja.

Untuk post kali ini, ceritanya di suatu negeri social media non-mainstream, terdapat fitur untuk menambah emoticon sendiri. Custom emoticons, kata orang sana. Trus di lingkaran pertemanan saya di social media tersebut, ada yang doyan pakai emoticon dari suatu aplikasi IM/VoIP buatan hasil akuisisi Microsoft. Nah pengennya sih ngambil file GIF bawaannya aplikasi itu, tapi ternyata susah. Di C:\Program Files\ gak ketemu. Akhirnya seorang ksatria satrio pun turun tangan dan melakukan screen capture untuk mendapatkan emoticon tersebut. Bagaimana caranya? Baca lebih lanjut

Faith, part I

Faith in humanity, restored. (Kata ABG online masa kini.)

Kemarin waktu pulang kantor di jalan banyak sekali pengendara yang tidak beradab. Perasaan lebih banyak dari yang pernah dijumpai selama di Bandung dan jadi berpikir, kayaknya semakin lama semakin banyak pengendara yang tidak beradab. Tapi hari ini ketika berangkat ke kantor ada kejadian yang mengejutkan (in a good way).

Jadi kalau berangkat ke kantor saya keluar dari rumah kost belok ke kanan. Nah tadi tumben-tumbennya di sebelah kanan ada mobil parkir, nggak tanggung-tanggung mobilnya Pajero yang sebesar… sebesar Pajero. Jadi menghalangi pandangan saya terhadap incoming traffic dari sebelah kanan.

Dalam kondisi normal (tidak terhalang Pajero) saja dari arah kanan seringnya pengendara tidak mau mengalah, dan saya harus agak ngotot atau pasrah menunggu jalan agak sepi supaya bisa memotong jalan untuk ke jalur kiri. Apalagi kondisi terhalang Pajero, saya tidak bisa melihat apakah ada traffic dari arah kanan.

Nah yang mengejutkan adalah, ada seorang pengendara Vespa, kelihatannya mahasiswa, yang berhenti dan kemudian memberi gesture untuk pengendara-pengendara lain di belakangnya untuk berhenti dan memberi saya jalan untuk lewat. Sekarang hal seperti itu sudah jarang sekali ditemukan di jalanan di Indonesia ini.

Thanks, anak muda, you made my day.

(Berasa tua banget nyebut ‘anak muda’.)